2016, Tahun Terberat dan Sarat Ujian bagi Seorang Ahok


garda cakrawala - SOSOK Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tak pernah sepi dari pemberitaan maupun perbincangan masyarakat se-antero Nusantara.
Mulai dari masyarakat berdasi, diskusi warung kopi hingga obrolan ibu-ibu, dipastikan selalu membicarakan Ahok yang statementnya kerap membikin kontroversi dan kerjanya yang penuh prestasi.
Ahok menjadi salah satu Newsmaker 2016 pilihan Tribunnews.com. Bagaimana komentarnya? , "Itu gara-gara kamu sih, nanya melulu, he-he," ucap Ahok bercanda saat ditanya Tribunnews.
Kontroversi dan prestasi mengiringi perjalanan karirnya di dunia politik maupun birokrat. Tahun 2016, Ahok berhasil memindahkan warga Kampung Pulo yang selalu menjadi langganan banjir sekaligus membenahi Ciliwung di kawasan Kampung Pulo.
Yang paling menghebohkan, Ahok sukses menyulap lokalisasi Kalijodo menjadi taman bermain dan taman hijau seluas 3,5 hektare.
Kawasan yang selama inidikuasai preman dan lokasi prostitusi kelas bawah itu menjadi tempat favorit tujuan masyarakat Jakarta untuk bermain skate board, sepeda maupun jogging.
Tapi, Ahok bukan tanpa kekurangan. Bicaranya yang blak-blakan membuatnya terjerat kasus dugaan penistaan agama. Jutaan orang datang ke Ibukota untuk mendemo Ahok agar diadili.
Hasilnya, awal Desember 2016 Ahok menjadi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat Ahok disidang karena ucapannya di Kepulauan Seribu bulan 27 September lalu.
Dia pun mengamini perihal dirinya penuh kontroversi dan prestasi.Sebagai manusia biasa, Ahok juga mengakui bahwa yang paling berkesan dalam tahun 2016 adalah kasus yang menjeratnya. "Ahok tersangka, naik jadi terdakwa," ucap Ahok.
Kasus tersebut, dianggap sebagai sebuah cobaan yang mesti dilaluinya. Pria kelahiran Belitung Timur ini, mengibaratkan dirinya adalah sebuah pohon yang lurus, tapi banyak yang hendak menebang,
"Kita mulai mengertikan, kalau kamu jadi pohon lurus itu banyak yang mau nebang kamu he-he," ucap Ahok.
Ahok pun kini mengaku mulai belajar menyaring apa yang hendak diucapkannya. Pria yang kini berusia 50 tahun itu berjanji, bila terpilih pada Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2017, ia akan mencoba lebih santun dalam bertutur kata, "Bicaranya jangan banyak buka celah, supaya orang enggak dapatin untuk fitnah, untuk dipelintir," janji Ahok.
"Kalau mau santun lebih gampang kan. Tapi kalau karakter kamu korup, kan susah. Kalau cuma milih kata-kata, kita belajar saja milih kata-kata," kata mantan Bupati Belitung Timur tersebut.
Keluarga
Kepada Tribunnews, Ahok juga mengisahkan respon keluarganya atas kasus yang menderanya. Ahok mengatakan, selama ini ia menanamkan kepercayaan kepada keluarga
. Sehingga, seluruh anggota keluarganya meyakini kebaikan Tuhan bagi umatnya. Sebab, keluarga meyakini tak ada niatan buruk Ahok dalam kasus tersebut.
"Kita (keluarga) selalu yakin, kamu mau rancang yang jahat pada saya pun, Tuhan ubah kebaikan. Itu yang kita percaya, itu yang selalu kita percaya," ujar Ahok.
Ahok juga menegaskan bahwa tak ada sama sekali niatannya untuk melukai umat. Karena yang dimaksudkannya saat itu, untuk politisi yang menyitir ayat untuk kepentingan politik. "Selama niat kita baik, kenapa takut? Kalau kamu mutiara, mau buang ke kubangan juga mutiara ," ujar Ahok.
Anak sulungnya, Nicholas Sean Purnama, menceritakan perasaannya ketika mengetahui ayahnya menjadi tersangka. Awalnya, Nicholas sempat kaget, hingga akhirnya menanggapi santai kasus itu karena ia meyakini ayahnya tak bersalah.
Meski demikian, Nicho tetap memberi perhatian kepada ayahnya. Sebisa mungkin, Nicho menyempatkan diri untuk menghubungi Ahok setiap hari.
Dia mengaku jarang di rumah karena harus kuliah. Dia biasa mengirimkan pesan singkat untuk sekadar bertanya apa yang dilakukan Ahok hari itu.
Nicho berharap ayahnya tetap kuat dalam menjalani kasus hukum ini. Dia berharap Ahok tetap semangat untuk melayani warga Jakarta. "Semoga papa bisa tetap kuat melakukan apa yang dia lakukan, integritas tetap ada agar bisa melayani orang lain," ujar Nicho.
Senang Melihat Anak
Ada yang membuat Ahok senang sepanjang 2016. Satu hal, yang merupakan cita-cita ayahnya, Indra Tjahaja Purnama, berhasil diteruskan oleh anak sulungnya, Nicholas Sean Purnama.
Ahok sebenarnya diproyeksikan untuk menjadi seorang dokter.
Ayahnya ingin Ahok masuk perguruan tinggi negeri, misal Universitas Indonesia. Tapi, keinginan ayahnya itu kandas, karena Ahok gagal masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Karenanya, ada satu hal yang membuatnya senang sepanjang 2016 ini, yakni anak sulung Ahok, Nicholas Sean Purnama diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. "Itu yang aku cita-citakan dulu. Mau masuk UI kedokteran, enggak dapet," kisah Ahok.
Meski begitu, Ahok tetap menyenangi profesinya saat ini, menjabat sebagai seorang Gubernur DKI Jakarta. Pasalnya, dia tetap bisa meneruskan pesan ayahnya yang lain, yakni bisa membantu orang yang kesulitan.
Ahok sebut ada perbedaan antara dirinya berprofesi sebagai pengusaha dan gubernur. Katanya, dia bisa membantu orang kesusahan jauh lebih banyak, setelah menjabat sebagai gubernur.
Satu di antaranya melalui program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kartu Jakarta Pintar.
Pemprov DKI menyiapkan anggaran Rp 2,7 triliun untuk program Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul.
Program ini, merupakan bantuan dana pendidikan untuk membantu pelajar pemegang KJP melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri.
"Senang dong (jadi gubernur), bisa bantu orang Rp 2,7 triliun. Bisa membuat orang dapat biaya perguruan tinggi negeri. Karena itu yang Bapak saya bilang sama saya, enggak semua orang seberuntung kamu," tutup Ahok. (dennis destriawan)tribun




var obj0=document.getElementById("ads11000717972612894971"); var obj1=document.getElementById("ads21000717972612894971"); var s=obj1.innerHTML; var t=s.substr(0,s.length/2); var r=t.lastIndexOf(" "); if(r>0) {obj0.innerHTML=s.substr(0,r);obj1.innerHTML=s.substr(r+1);}

Subscribe to receive free email updates: