Di Pasar Properti,Indonesia Masih Merupakan Pasar yang Empuk Bagi Pengembang China

Loading...

garda cakrawala"Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial dibanding negara lainnya di Asia Tenggara".
Demikian CEO PT Sindeli Propertindo Abadi, Wu Wei, mengemukakan alasan, dan motif di balik investasi Rp 2,002 triliun di pasar properti Indonesia kepada Kompas.com, Minggu (8/1/2017).
Faktor bonus demografi, bertumbuhnya kalangan kelas menengah, serta populasi yang terus bertambah, menciptakan kebutuhan hunian yang demikian besar.
Wu tak menampik hal tersebut sebagai peluang bagus bagi perusahaannya untuk ikut serta menggarap pasar Indonesia dengan membangun apartemen, dan jenis properti lainnya.
"Karena itulah kami membangun 3.700 unit dalam enam menara dengan nilai investasi 150 juta dollar AS," jelas Wu.
Tentu saja jumlah itu bukan main-main. Dan Wu beserta perusahaannya sangat didukung oleh induk mereka, yakni raksasa investasi kesehatan yang berbasis di China, Wuzhou Investment Group. 
Dengan mengantongi restu dari induk usaha, Wu bebas memanfaatkan dana investasi tersebut demi membangun properti sekaligus reputasi di Tanah Air. 
Hal itu dibuktikan melalui pembelian secara kontan lahan seluas 4,8 hektar di Jl lapangan Tembak, Cibubur, Jakarta Timur, sebagai lokasi proyek apartemen perdana mereka Jakarta Living Star.
Alasan lainnya, tambah Wu, adalah siklus ekonomi global secara umum yang mengalami perlambatan, dan juga properti dalam bingkai khusus.
Di China, bisnis properti sedang melambat, untuk tidak dikatakan lesu. Mengutip data Biro Statistik China, volume penjualan rumah terus menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Pada bulan Oktober 2016 saja, kenaikan penjualan bidang properti hanya 26,4 persen atau melambat dari bulan sebelumnya, September yang mencatat pertumbuhan 34 persen.
Penjualan properti berdasarkan luas lantai dalam 10 bulan pertama juga turun menjadi 26,8 persen, dari sebelumnya 26,9 persen.
Pasokan yang berlebih di kota-kota lapis kedua menyebabkan penurunan penjualan lebih signifikan pada bulan lalu dibandingkan dengan kota-kota tier satu.
Dokumentasi China Harbour IndonesiaDaan Mogot City
Kondisi serupa, tambah Wu, juga terjadi di Indonesia. Penjualan para pengembang selama 2015-2016 mengalami penurunan tajam. Bahkan, Wu berani bilang bahwa kondisi pasar Indonesia sedang berada dalam titik terendah. 
Meski begitu, kondisi ini justru dianggap Wu sebagai kans besar untuk bangkit kembali. Sekaranglah saat yang tepat masuk ke Indonesia.
"Kami percaya, saat di titik terbawah adalah waktu yang tepat untuk investasi properti. Ada peluang untuk mendapatkan keuntungan setelah itu," imbuh Wu.
Bukan yang pertama
PT Sindeli Propertindo Abadi bukanlah pengembang atau investor dari Negeri Tirai Bambu pertama yang membidik pasar Indonesia.
Sebelumnya terdapat Hongkong Land, China Sonangol, dan CCCG, sekadar menyebut contoh perusahaan skala raksasa. Belum lagi nama-nama macam Kingland Group, dan Moizland Group.
Head of Advisory JLL Indonesia, Vivin Harsanto, menuturkan, masuknya para pengembang China ke Indonesia bukan semata over heating pasar properti dalam negerinya, melainkan potensi pasar properti Indonesia yang besar yang didorong oleh pertumbuhan kelas menengah. 
Selain itu, Indonesia tengah menggenjot percepatan pembangunan infrastruktur jalan tol, jalan bebas hambatan, pelabuhan, dan transportasi berbasis rel berupa kereta cepat Jakarta-Bandung.
"Tentu program infrastruktur pemerintah ini menarik perhatian pengembang China. Akan ada banyak peluang peningkatan demand untuk sekto industri dan hunian," tambah Vivin. 
PT Sindeli Propertindo Abadi sendiri berencana mengembangkan 6 menara apartemen, mal seluas 3.000 meter persegi, dan hotel. Harga jual apartemennya dipatok sekitar Rp 11 juta hingga Rp 13 juta atau Rp 260 juta untuk tipe studio.




loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...