Jerit Pedagang di Lapo Senayan yang akan Pindah Lokasi



garda cakrawalaHampir 25 tahun kawasan Lapangan Tembak di belakang gedung DPR/MPR dikenal sebagai sentra kuliner Nusantara. Namun tahun ini para pedagang tak lagi bisa menyewa lokasi tersebut.

Di lokasi itu rencananya akan dibangun untuk fasilitas penunjang Asian Games. Para pedagang di lokasi itu kini terancam untuk menutup usahanya.

"Di sini sewa termasuk murah Rp 1,2 juta dapat 3x7 meter. Begitu mau digusur mulai merosot omzet menurun sudah 3 bulan ini," kata pemilik Rumah Makan khas Makassar Amir Armas saat ditemui di warungnya, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017).

Amir merupakan generasi kedua, dia melanjutkan usaha ayahnya Arman Armas yang membuka usaha di Jalan Asia Afrika. Saat ayahnya berjualan di kawasan Asia Afrika dia mengaku itu adalah masa jaya mereka.

"Jaya itu waktu di Asia Afrika, pendapatannya lebih banyak. Dulu kan belum banyak kantin. Dulu jam makan siang penuh sup konro 5 kg, habis itu pindah ke sini merosotlah kita," kenang dia.

Bahkan saking jayanya, Amir bisa membuka warung ketiga di lokasi itu. Namun kini warung yang akan digusur itu hanya satu-satunya pencahariannya.

"Dulu ini cabang ketiga, dulu pusat di Kebon sirih, sekarang satu-satunya. Ini mau jatuh lagi bangkit terus. Insya Allah rezeki enggak kemana," ujar dia optimistis.

pemilik Rumah Makan khas Makassar Amir Armaspemilik Rumah Makan khas Makassar Amir Armas Foto: Aditya Mardiastuti-detikcom


Beruntung masih banyak langganan yang setia padanya masakannya. Kini dia sedang berjuang mencari lokasi baru yang masih dekat dengan tempatnya yang sekarang. 

"Desember 2016 sudah diberi pemberitahuan bakal ada penggusuran. Kalau penggusuran kali ini tidak ada relokasi, cari masing-masing, tanah Gelora sudah enggak bisa lagi. Enggak ada solusinya," ujar dia sedih.

"Kita enggak sembarangan, ke sana-kemari kalau kejauhan pelanggan ngejarnya susah," sambung dia.

Pria yang juga akrab disapa Pak Kumis itu mengatakan pelanggannya merupakan karyawan DPR dan Kementerian Kehutanan. Dia pun kini sudah pasrah untuk digusur dan mencari lokasi lainnya.

"Kalau kita sih masih berharap jangan deh digusur. Habis kontrak enggak diperpanjang lagi ngapain kita, mau gimana lagi,"ungkap dia.

Hasni boru TobingHasni boru Tobing Foto: Aditya Mardiastuti-detikcom


Hal senada diungkapkan oleh Hasni boru Tobing (70) pemilik warung makan Lapo Boru Siagian. Dia mengenang ketika membuka usahanya di Lapangan Tembak Senayan kawasan itu masih sangat sepi.

"Kami dari Medan buka pertama 1984 di Asia Afrika buka 2 bulan bisa beli mobil Accord kemudian Lancer, Kijang, Mazda dan rumah bisa dibeli. Sudah 20 tahun di sini eh malah digusur," keluh nenek 16 cucu itu.

Keluhan yang sama juga diungkapkan oleh petugas parkir Zaenal Abidin. Dia mengaku waswas bakal kehilangan pekerjaan. Apalagi Zainal sudah 20 tahun bekerja sebagai tukang parkir di situ.

"Saya bakal kehilangan lahan, enggak tahu mau pindah kemana. Anak paling kecil masih sekolah di SD," kata dia.

Setiap harinya ada dua kali aplusan untuk menjaga parkir. Jumlah motor yang parkir bisa mencapai ratusan.

"Paling sepi 150 motor dan setiap hari kami selalu setor ke pengelola GBK Rp 100 ribu. Alhamdulilah uang harian bisa menghidupi keluarga," ujar bapak tiga anak itu. 
(ams/fdn)
sumber:detik






var obj0=document.getElementById("ads16635094214710759147"); var obj1=document.getElementById("ads26635094214710759147"); var s=obj1.innerHTML; var t=s.substr(0,s.length/2); var r=t.lastIndexOf(" "); if(r>0) {obj0.innerHTML=s.substr(0,r);obj1.innerHTML=s.substr(r+1);}

Subscribe to receive free email updates: