Menyedihkan,Nenek tua ini hanya tinggal di gubuk berukuran 2x1 meter


garda cakrawalaJuliah seperti menghitung kendaraan yang lewat di depan rumahnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Kadang terlihat sepeda motor lewat, becak, sepeda bahkan mobil pun bisa melewati depan rumahnya itu. Sedang seberang rumahnya merupakan sungai, dan belakang gubuk tempat yang ia tinggali merupakan tembok sebuah bangunan.
Namun rumah Juliah bukanlah rumah seperti rumah pada umumnya dengan jalan besar di depannya, berukuran cukup luas dan memiliki halaman. Sebab, rumah yang sehari-hari ditempati Juliah yang ada di Jalan Inspeksi (kawasan Johar) Semarang, tak ubahnya kandang ayam, bahkan mungkin lebih buruk dari kandang ayam. Berukuran sekitar dua meter kali satu meter dengan ketinggian sekitar 70 cm. Setiap hari, perempuan yang mengaku berusia 80 tahun lebih itu menghabiskan waktu hanya dengan duduk-duduk di pintu rumahnya.
Pendengarannya tak sempurna, hanya telinga kanan yang berfungsi. Itu pun kalau berbicara harus sedikit berteriak. Jemari di kaki dan tangannya tak lagi utuh. Di kaki kiri, tak ada jari yang tersisa, hingga lalat liar bebas hinggap di atas luka yang terplester seadanya. Kaki kanan masih menyisakan jempol. Sementara tangan kirinya, tinggal jempol dan telunjuk dan tangan kanan tersisa jempol. "Mboten ngertos sakit nopo (tidak tahu sakit apa), kadang dicokoti (digigiti) tikus," kata Juliah, Jumat (27/1).
Dia mengaku asli Grabag, Magelang. Merantau ke Semarang setelah salah satu anaknya tewas saat ramai penembak misterius pada sekitar tahun 1980an. "Anak kulo mboten nyolong, namung nyopir (anak saya tidak mencuri, hanya sopir)," ceritanya. Setelah itu, dia mengaku sakit hati dan memilih meninggalkan Grabag dan mengikuti anaknya yang lain di Semarang.
"Tapi anak sing niki mboten pinter (Tapi anak yang ini tidak pintar)," kata Juliah. Dia mengatakan seringkali dibantu pegawai kelurahan dan orang lewat, tapi bantuan tersebut diminta anaknya. "Anak kulo mpun kecukupan (anak saya sudah kecukupan), kulo pasrah mawon mas (saya pasrah saja)," lirih Juliah yang menangis kala bercerita. Rumah yang ditempati itu, dibikinkan anaknya.
Kala fisiknya masih kuat, dia bekerja apa saja mulai dari buruh lepas hingga menjadi pemulung. "Bar dawah pundak kulo sakit, mboten saged ngge kerjo (setelah jatuh pundak saya sakit, tidak bisa buat kerja)," ucap Juliah. Dia berharap fisiknya bisa pulih dan kembali bekerja, sebab Juliah mengatakan tak mau merepotkan orang lain.
Anak Juliah, Turdoniah mengatakan ibunya tidak pernah mau diperiksakan ke dokter. "Saya tinggal di Barutikung, ngontrak, tapi tiap hari nengok kesini," jelasnya yang ditemui saat kebetulan tengah menengok Juliah. Dia sendiri mengaku bekerja sebagai pemulung.
sumber:merdeka




Subscribe to receive free email updates: