Jika Indonesia Tetap Ngutang Maka Dalam 2 Tahun Ke Depan Utang Mencapai Sekira Rp1.000 Triliun.

Loading...


garda cakrawala - Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri melihat jika pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan ekonomi melalui Sinergitas antara pusat dan daerah menjadi semakin penting. Sebab kondisi antara kota dan desa di bidang ketenagakerjaan sangatlah berbeda.
Pengamat Ekonomi Didik J Rachbini melihat bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia saat ini sudah besar sehingga tidak perlu menerima pinjaman dari luar negeri. Perlu dilakukan adalah mengatur APBN dari sisi pengeluaran yang boros.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution memiliki cerita dan harapan ketika dirinya meresmikan pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Hal ini diungkapnya dalam acara Pertemuan Nasional Sawit Indonesia.
Ketiga berita tersebut, menjadi berita-berita yang banyak menarik minat para pembaca di kanal bisnis Okezone.com. Untuk itu, kembali disajikan berita-berita tersebut secara lengkap.
Menaker: Tenaga Kerja di Desa Too Poor to be Unemployment
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan sinergitas antara pusat dan daerah menjadi semakin penting. Sebab kondisi antara kota dan desa di bidang ketenagakerjaan sangatlah berbeda.
"Saya membedakan kondisi dan permasalahan ketenagakerjaan yang ada di wilayah perdesaan dan perkotaan. Di perdesaan, terdapat gejala too poor to be unemployment (terlalu miskin untuk jadi pengangguran)," ungkapnya.
Menurutnya, penduduk miskin di perdesaan akan bekerja apa saja hanya semata untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Meskipun pekerjaan itu tidak mampu melepaskan mereka dari jurang kemiskinan. "Dengan kata lain mereka menjadi pekerja miskin (sudah bekerja tapi tetap miskin)," jelas dia.
Hanif menjelaskan, indikasi-indikasi yang menunjukkan adanya gejala too poor to be unemployment di perdesaan adalah besarnya pekerja sektor informal di perdesaan yang mencapai 72,62% pada tahun 2016.
Selain itu menurunnya upah riil harian buruh tani, dari Rp37.822 pada November 2015 menjadi Rp37.142 pada November 2016. “Padahal, pada tahun 2016 ini sekitar 52,94 % pekerja perdesaan ada di sektor pertanian," tukasnya.
Jika Tak Ditekan, Utang Indonesia Akan Tambah Rp1.000 Triliun
Pengamat Ekonomi Didik J Rachbini mengatakan, utang yang dimiliki Indonesia saat ini sudah menjadi beban berat bagi Pemerintah, baik utang luar negeri maupun dalam negeri. Sehingga jika tetap meminjam maka dalam 2 tahun ke depan utang Indonesia akan mencapai sekira Rp1.000 triliun.
"Yang menjadi beban APBN, utang Pemerintah pada saat ini, baik dalam negeri maupun utang luar negeri mencapai tidak kurang dari Rp3,460 triliun. Dalam dua tahun ini meningkat sangat tinggi sekali hampir Rp1000 triliun," ungkapnya saat dihubungi oleh Okezone.
Menurutnya, Indonesia sudah terlalu banyak berutang baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga jika tetap meminjam dan menambah utang maka posisi utang negara akan jauh dari posisi aman.
Seperti diketahui, Presiden Asian Development Bank (ADB), Takehiko Nakao hari ini bertemu dengan Presiden Indonesia, Joko Widodo, dan menyampaikan keyakinannya akan prospek ekonomi Indonesia. Beliau juga menegaskan kembali dukungan ADB bagi upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dalam pertemuannya kali ini, Nakao kembali tegaskan komitmen untuk mengalokasikan pinjaman untuk pemerintah Indonesia sekitar USD 2 miliar per tahunnya dalam jangka menengah.
Menko Darmin Ungkap Sejarah Pembentukan BPDP
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menceritakan, saat menjabat 1 sampai 2 minggu sebagai Menko bidang Perekonomian dibentuklah BPDP Kelapa Sawit. Ketika itu harga CPO dalam keadaan terpuruk.
"Saya sampaikan waktu itu antara lain, kita punya kebanggaan yang sudah berjalan sejak lama tapi katakanlah seperti rempah-rempah, pala, tebu, gula, pernah menjadi andalan kita. Tapi mereka sudah mulai hilang perannanya, gula banyak tapi kita tidak lagi jadi andalan ekpor, kita nett importir bidang ini. Saya sampaikan jangan sampai kelapa sawit jadi sejarah juga" ujar Darmin.
Dalam perjalanannya, pemerintah memutuskan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit melalui program B20. Keadaannya tiga sampai empat bulan setelah BPDP Kelapa Sawit terbentu munculah program B20.
"Saya ingat rapatnya siang hari. Dua sampai tiga jam kemudian waktu umumkan B20 mulai dilaksanakan harga TBS (Tandan Buah Segar) tadinya Rp800 mulai meningkat memang bergabung dengan pemulihan harga CPO di pasar global. Sekarang lihat TBS sudah dua kali lipat. Kita menyadari betul bahwa kelapa sawit adalah suatu berkah bagi Indonesia," ujarnya.
Menurutnya, di antara semua tanaman yang menghasilkan minyak produksi paling tinggi di dunia adalah kelapa sawit. Jadi secara objektif kelapa sawit itu dibandingkan apa saja penghasilannya semua kalah dengan kelapa sawit.
"Kita harapkan kalau banyak negara di dunia khawatir lihat sawit. Kemudian lahir lah kampanye untuk memojokkan sawit, di antara kita secara tidak proporsional salahkan sawit," tandasnya.
sumber:okezone




loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...