Banser dan jebakan anarkisme


garda cakrawala OPINI – Barisan Ansor Serbaguna (Banser) akhir-akhir ini menjadi sorotan. Sayangnya yang disorot bukan prestasi di bidang intelektual atau karya keumatan tetapi justru kekerasan terhadap kelompok Islam lain.
Terbaru adalah pengusiran terhadap Chalid Basalamah di Sidoarjo, setelah sebelumnya orang belum lupa dengan tantangan kasar Banser Bangka Belitung terhadap Imam FPI Habib Rizieq Syihab plus pendudukan RSI Purwokerto saat bersengketa dengan Muhammadiyah, yang hingga kini sudah dua kali dinyatakan sah milik Muhammadiyah di pengadilan.
Terkait pengusiran Basalamah di Sidoarjo pada Sabtu (04/03/2017), sejumlah tokoh ikut angkat bicara, termasuk Ketua MK (2008-2013) Mahfud MD, yang juga tokoh NU. Lewat akun Twitternya, Mahfud menyayangkan aksi tersebut, akan tetapi tidak perlu ada seruan pembubaran karena menurutnya aksi Banser tersebut bukan perilaku yang berulang-ulang.
Akan tetapi, harus diakui bahwa warga NU (sebagai induk Banser) tidak suci dari aksi kekerasan. Di antara kasus itu adalah pembakaran pesantren dan pengusiran warga Syiah di Sampang, pulau Madura, atau pengrusakan sejumlah aset milik Muhammadiyah seperti universitas, sekolah hingga panti asuhan saat pelengseran Gus Dur oleh DPR.
Banyak apologi dari warga menengah intelektual NU dengan mengatakan jika tidak dimulai, warga NU tidak akan melakukannya. Argumen ini tentu lemah karena orang cerewet pun akan mengatakan hal yang sama, “Saya tidak akan banyak bicara jika tidak ada masalah.” Ujian manusia justru dilihat dari cara dia merespons kasus. Jika tidak ada soal, berarti tak ada ujian; tak ada ujian berarti kualitas masih tersamar. Ujianlah yang menentukan sampai di mana level seseorang, termasuk organisasi.
Atau, ada yang beralasan jika kekerasan itu tidak diperintahkan oleh pimpinan. Justru, berfungsinya sebuah organisasi itu dilihat dari bagaimana mengendalikan anggotanya, sama seperti orang tua yang harus mendidik dan mengendalikan anak-anaknya. Jika seorang anak menempeleng temannya di sekolah, orang tua tentu dianggap lucu dengan mengatakan dirinya tidak mengajarkan dan tidak pula menyuruh anaknya memukul teman-temannya. Anak yang menyimpang tidak lain karena orang tua yang tidak menjalankan fungsinya.
Jadi ini gejala apa?
Para pemimpin NU sering mengklaim organisasinya paling toleran, berislam dengan wajah nusantara yang teduh dan ramah, serta menyebar perdamaian. Klaim tentu harus didukung oleh fakta di lapangan.
Saat ini, beberapa kasus ketegangan internal umat Islam ternyata justru sering melibatkan warga NU. Misalnya, pelarangan berdirinya sebuah pesantren di lampung yang dianggap berhaluan Wahabi. Belum lagi penghalangan berdirinya masjid Muhammadiyah di Jawa Timur dan Aceh. Juga, pelarangan beberapa acara HTI di daerah.
Jika dibalik, apakah ada pembalasan dari kelompok-kelompok tersebut kepada warga Nahdliyin dengan cara serupa? Tentu kejadian sebaliknya sulit ditemukan. Yang menjadi alasan ketegangan oleh warga NU pun sebenarnya sama, kelompok-kelompok itu dianggap menjelek-jelekkan tradisi keagamaan NU: misalnya, dibilang penuh bid'ah dan syirik. Akan tetapi, dalam beberapa ceramah, kyai NU juga tak luput menyerang kelompok lain. Dalam sebuah kesempatan, misalnya, KH. Said Agil Siradj (sekarang Ketum PBNU) juga pernah menyebut Muhammadiyah goblok.
Apabila yang diserang pemikiran, mengapa bukan dibalas dengan pemikiran? Jika itu dianggap penistaan, bukankah ada aparat hukum yang bisa dilapori? Bukankah banyak contoh kasus penistaan diproses di pengadilan dan menghasilkan keputusan yang cukup adil, yang terbaru contohlah kasus Ahok. Merasa dinistakan, ya lapor polisi. Mengapa harus menjadi hakim dan polisi dengan cara sendiri? Bukankah NU sering mengkritik cara-cara FPI yang main gasak tanpa permisi, lantas mengapa sekarang harus meniru? Dalam bahasa Jawa ada ungkapan olok-olok kepelok ‘mengolok-olok tapi kemudian ikut’. 
Sebagai ormas Islam terbesar, NU seharusnya mampu mengayomi yang lain dan menjadi teladan dalam pelbagai bidang seperti pendidikan, pemikiran, amal usaha, wakaf, penglolaan zakat dan amaliah-amaliah lain, bukan mentang-mentang dengan mengandalkan otot mengandalkan banyaknya massa.
Apa yang ada pada lambang NU sangat apik untuk diingat oleh semua orang, terutama warga nahdliyin sendiri. KH Ridwan Abdullah, pengusul lambang NU, membuat bola dunia yang dilingkari tali bersimpul yang merupakan perlambang organisasi ini ingin mengikat kaum Muslim di seluruh dunia dalam sebuah ukhuwah.
Warga NU seharusnya mengatahui misi mulia dari para pendiri tersebut. Jika sedikit-sedikit menolak yang lain, bagaimana ukhuwah bisa dijalin?
Fenomena keterlibatan warga NU dalam kekerasan ini harus menjadi perhatian serius para pengurus ormas Islam tersebut. Jangan sampai hal ini menjadi gejala merajalelanya fundamentalisme sektarian, yang justru sering disebut sebagai musuh NU.
Satu sisi NU menolak wajah-wajah Islam transnasional yang diklaim tidak ramah dan humanis, tapi di sisi lain, warga NU menterjemahkannya dengan radikalisasi ke-NU-an. Kalau seperti ini polanya, jelas tidak ada bedanya: sama-sama kecanduan terhadap golongan. Ini adalah jebakan dan sangat tidak menguntungkan bagi citra Islam yang kini memang tengah terpuruk dan membutuhkan bantuan dari umatnya.
PBNU sebaiknya menegakkan fungsinya sebagai sebuah organisasi yang mampu mengontrol anggotanya, bukan bereaksi setelah kejadian seperti peristiwa penolakan terhadap FPI oleh Banser Bangka Belitung yang lalu.
Sebagai rumah terbesar umat Islam Indonesia, NU tentu menjadi harapan, tak hanya bagi Islam, tetapi bagi bangsa secara umum. Tentu kita berharap bahwa Nahdlatul Ulama yang bermakna ‘kebangkitan ulama’ benar-benar terwujud dengan fungsionalnya peran ulama dalam mencerdaskan umatnya, atau membangkitkan ulama dalam arti mencetak ilmuwan-ilmuwan yang mengedepankan penalaran dalam menghadapi masalah.



var obj0=document.getElementById("ads15308049068689424070"); var obj1=document.getElementById("ads25308049068689424070"); var s=obj1.innerHTML; var t=s.substr(0,s.length/2); var r=t.lastIndexOf(" "); if(r>0) {obj0.innerHTML=s.substr(0,r);obj1.innerHTML=s.substr(r+1);}

Subscribe to receive free email updates: