Beda Zaman Beda Cara,Dulu PKI Memulai Penyerangan dengan Kekerasan, Namun Sekarang Melalui Pendekatan Strategis atau Soft Power


garda cakrawala – Barisan Garuda Pancasila, Laskar Janur Kuning, Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan  Front Pancasila pagi tadi, Minggu (19/3) menggelar aksi di depan Komnasham.  Massa aksi menyikapi munculnya fenomena kebangkitan neo komunis yang mencoba mencari perlindungan dibalik Komnasham.

Nanang Qosim dari GPII dalam orasinya menyatakan bahwa PKI mencoba mencuci otak anak-anak muda yang tidak paham sejarah dan memutarbalikkan sejumlah fakta seolah PKI yang menjadi korban kekejaman pemerintah Orba.

“Gerakan PKI gaya baru mencoba merusak pikiran anak-anak muda yang tak paham sejarah. Mereka berupaya memutarbalikkan fakta dengan menyebut PKI sebagai korban kekejaman pemerintah Orde Baru.” Kata Nanang
Tanda-tanda kebangkitan kembali komunisme di Indonesia dengan istilah komunisme gaya baru, KGB,  sudah terlihat dengan berbagai cirinya. Letupan-letupan seperti peristiwa Kanigoro sudah mulai muncul saat ini, misalnya dengan bermunculan reoni eks-PKI di Bayuwangi. Sejarah akan terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.” Lanjut Ketua Bidang Dakwah GPII.

Menurut Nanang, perbedaannya terletak pada warna dan kualitasnya. Jika dahulu pendekatan yang dilakukan dominan memulai kekerasan/pembunuhan namun sekarang ini pendekatan strategis dengan soft power. Komunisme bergerak melalui  seluruh sendi kehidupan baik legislative maupun eksekutif, merayap di tengah-tengah masyarakat Indonesia. PKI juga bergerak melalui partai-partai yang berhaluan kepada keberadaan Komunis.

Massa aksi menyoroti beberapa kegiatan “komunis gaya baru” belakangan ini seperti, kegiatan tanggal 18-19 April 2016 yang diselenggarakan di Hotel Arya Duta Jakarta dengan tema “Simposium Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan”.

Selanjutnya pada tanggal 5-8 Mei 2016 di Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan tema kegiatan “ASEAN Literary Festival” dan Belok Kiri festival”. 

Dan yang terkini kini pada tanggal 17-19 maret 2017, menurut pengunjuk rasa dalam rilisnya, PKI telah melangsungkan acaranya di KOMNAS HAM Jakarta Pusat dengan tema dan susunan kegiatan berikut ; International People’s Tribunal (IPT) 1965, Komnas HAM Perempuan, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.

Dalam penyampaian rilisnya massa menuntut 4 hal, pertama, menuntut pembubaran acara tersebut diatas karena terindikasi melakukan penyebaran paham yang bertentangan dengan asas Pancasila.

Kedua, mendesak aparat kepolisian dan TNI untuk ikut mengawal pembubaran acara tersebut, yang menjadi tugasnya dalam menindak kegiatan yang bertentangan dengan paham Pancasila.

Ketiga, usir asing dan aseng  yang membawa dan menyebarkan paham komunis yang bertentangan dengan Pancasila.

Dan yang terakhir,  menghimbau kepada seluruh Umat Islam dan Rakyat cinta Pancasila agar segera menuju titik kumpul pembubaran. (MH029/mediaharapan)




var obj0=document.getElementById("ads17254812230183492515"); var obj1=document.getElementById("ads27254812230183492515"); var s=obj1.innerHTML; var t=s.substr(0,s.length/2); var r=t.lastIndexOf(" "); if(r>0) {obj0.innerHTML=s.substr(0,r);obj1.innerHTML=s.substr(r+1);}

Subscribe to receive free email updates: