Curi Start,Calonkan Emil Di Pilgub Jabar, Apakah Insting Politik Paloh Akan Berakhir dengan kesuksesan ?

Loading...

garada cakrawala - Sebagai politisi ulung, Surya Paloh lihai memilih calon yang akan diusungnya. Tahun 2014, Partai Nasdem yang dipimpinnya menjadi partai pertama di luar PDIP yang lebih dulu ikut mendukung Jokowi sebagai capres. Kini, dia juga ambil start duluan memilih Ridwan Kamil, tokoh Bandung yang sedang populer menjadi calon gubernur Jawa Barat. Apakah insting politik Paloh akan berakhir dengan kesuksesan juga kali ini?

Sama seperti kepada Jokowi, Paloh memastikan tak ada mahar dan tanpa syarat berkaitan dengan uang atau jabatan saat mendukung Ridwan Kamil. Paloh ikhlas, padahal Jokowi dan Ridwan Kamil jelas-jelas bukan kader Nasdem. 

Pilihan Paloh ke Emil, begitu Ridwan Kamil disapa, diumumkan dalam deklarasi terbuka nan meriah di Monumen Bandung Lautan Api Lapangan Tegalega, Bandung, Jawa Barat, kemarin. Untuk acara ini, sebuah panggung besar didirikan. Emil dan Ketua DPW Nasdem Saan Mustopa datang ke lokasi dengan diarak menaiki Sisingaan. Sisingaan adalah kesenian asal Subang, Jawa Barat. 

Selama menuju area panggung utama, Emil yang memakai baju kemeja lengan panjang berwarna biru sesekali melambaikan tangannya dan menyalami balik warga yang hadir. Surya Paloh dan Menteri Perdagangan yang juga kader Nasdem Enggartiasto turut hadi di acara. Pendeklarasian Emil sebagai cagub Jabar tertuang dalam Surat Rekomendasi DPP Nasdem. Surat itu dibacakan dan diserahkan langsung oleh Saan kepada Emil. 

Dalam sambutannya, Saan menyampaikan salah satu misi Pilkada adalah mencari putra-putri terbaik untuk menjadi pemimpin di daerahnya masing-masing. Harapannya, rakyat bisa merasakan manfaat dari kepala daerah itu. Dalam mencari pemimpin daerah terbaik itu, dia bilang, Nasdem mengedepankan politik tanpa mahar yang bisa menyebabkan biaya politik tinggi. "Nasdem ingin mengurangi beban politik itu karena Nasdem tidak mau kepala daerahnya melakukan perbuatan tercela. Politik tanpa mahar bukan sekadar slogan, tapi dibuktikan di Pilkada 2015, 2017 dan 2018," kata bekas politikus Demokrat itu. 

Surya Paloh mengatakan, partainya mencalonkan Emil lantaran sudah menyepakati tiga syarat yang diminta Nasdem. Tiga syarat itu adalah Emil harus menjadikan Jabar sebagai benteng Pancasila. Kedua, Emil diminta tidak menjadi anggota partai politik termasuk Nasdem. Menurut dia, jika menang harus menjadi milik seluruh masyarakat Jawa Barat dan seluruh parpol yang ada. Tujuannya agar Emil bisa menjalankan amanah dan sumpah jabatannya, lebih fokus bagi masyarakat. Jika terpilih, Emil ikut mendukung pemerintahan Presiden Jokowi yang sedang berupaya mempercepat proses pembangunan serta persiapan Pilpres 2019. "Inilah tiga syarat yang ditetapkan Nasdem kepada Ridwan Kamil dan telah terjadi kesepakatan antara Ridwan Kamil dan saya sehingga deklarasi hari ini dilaksanakan," ungkap Paloh. 

Setelah dideklarasikan, Paloh bilang partainya kini menjalin komunikasi dengan sejumlah parpol lain. Parpol mana yang tengah dijajaki, Paloh bilang tidak bisa disebutkan sekarang. Yang pasti, Bos Media Group itu memastikan akan berkoalisi dengan partai partai lain untuk mencalonkan Emil. 

Sementara, dalam pidato politiknya Emil menyampaikan terima kasih kepada Nasdem yang perdana memberikan dukungan tanpa mahar. Meski Pilgub Jabar ini masih 15 bulan lagi, Nasdem sudah duluan mengusungnya. "Terima kasih Nasdem sudah memelopori politik etis ini," kata Emil. Dia kemudian menceritakan kiprahnya selama 3,5 tahun memimpin Bandung yang sudah menerima 225 penghargaan. Menurutnya, terobosan dan torehan prestasi yang diperoleh Kota Bandung adalah bekal untuk memimpin Jabar. Sebelum menuntaskan pidato, Emil menyampaikan sebuah pantun. "Berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian. Partai Nasdem sudah deklarasi dahulu, kenapa partai lain masih banyak pikiran," kata Emil yang disambut tawa dan tepuk tangan meriah. 

Pengamat politik dari LIPI Prof Siti Zuhro tak kaget dengan gaya Surya Paloh sudah menentukan cagubnya sendiri meski Pilgub Jabar terhitung masih lama. Hal serupa dilakukan Paloh di Pilgub DKI 2017. Saat partai lain masih berpikir, Nadem sudah mencalonkan Ahok sebagai cagub. Saat itu, Ahok dinilai sebagai cagub yang paling tinggi popularitasnya. Sama dengan kondisi Emil saat ini, yang dianggap paling tinggi popularitasnya. "Dalam hal ini Nasdem memang pintar mencuri start," kata Siti saat dikontak Rakyat Merdeka, tadi malam. 

Dia bilang, gelaran Pilkada idealnya memang dipersiapkan jauh-jauh hari. Tapi idealnya juga, dengan mempersiapkan dari kader sendiri. Tapi lagi-lagi, masalah bagi partai yang relatif baru adalah tidak punya kader sendiri. Jangankan partai baru, partai lama saja sulit menawarkan kader yang populer. "Karena alasan itu pula Nasdem tidak terlalu banyak berpikir," ujarnya. Meski begitu, Siti mengapresiasi langkah cepat Nasdem. Makin lama partai menentukan sikap makin rentan terjebak dalam politik transaksional. "Nasdem ingin leading dengan menawarkan Emil. Sekaligus ingin mendongkrak popularitas partainya," tuntasnya. 

Sementara, pengamat politik dari Unpad Muradi menilai deklarasi pencalonan itu berpotensi menjadi blunder. Ada beberapa alasan. Antara lain, secara etika politik kurang tepat, karena saat ini Emil masih menjadi Walikota Bandung. Sejumlah warga Bandung akan merasa ditinggalkan. Alasan lain, deklarasi ini juga secara eksplisit menutup ruang koalisi bersama. Sementara Nasdem yang mempunyai lima kursi di DPRD Jabar tidak cukup mengusung calon sendiri. Selanjutnya, Emil berpotensi tersandera politik oleh kepentingan Nasdem. 

Selain itu, lanjut Muradi, partai lain mungkin akan berpikir ulang mencalonkan Emil setelah deklarasi tersebut. Terutama PKS dan Gerindra yang mengusung Emil sebagai Walikota Bandung. "Jika tidak baik mengelola situasi ini bisa saja popularitas Emil jatuh seperti Dede Yusuf di Pilgub Jabar 2013 yang saat itu selalu memimpin raihan survei," pungkasnya.[rmol]




loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...