Hadiri Haul Lieus Sungkharisma Tegaskan Dukng Anies-Sandi Dan Hadirnya Gubernur Jakarta Yang Beretika, Santun Dan Tidak Pembohong.




Karena itulah dia menilai, insiden tersebut semakin membuktikan apa yang menjadi persoalan dalam Pilkada DKI selama ini bukan masalah SARA. "Tapi sepenuhnya menyangkut prilaku, etika, adab dan sopan santun calon gubernur yang bersangkutan," tandasnya.

garda cakrawalaPenolakan terhadap Djarot Syaiful Hidayat saat menghadiri peringatan 51 tahun Supersemar dan Haul Presiden Soeharto di Masjid At-Tin, Pondok Gede, pada Sabtu malam (13/3) ditengarai sebagai bentuk protes dan ungkapan ketidaksukaan. Mengingat, Cagub DKI Jakarta itu berpasangan dengan Basuki T. Purnama, terdakwa kasus penistaan agama.

Meski demikian, penolakan tersebut dinilai tak ada kaitan dengan unsur SARA. Karena pada saat bersamaan, Tokoh Tionghoa non-Muslim, Lieus Sungkharisma, juga hadir dan diterima dengan baik oleh jama'ah meskipun tak masuk ke dalam masjid.

"Jika yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta selama ini menyangkut SARA, Lieus yang non-Muslim seharusnya ditolak hadir dalam acara itu. Jadi bukan Djarot. Tapi faktanya justru Djarot yang ditolak/diusir dan Lieus yang disambut/diterima," kata Ketua Muslim Tionghoa Indonesia (MusTi), H.M. Jusuf Hamka (Minggu, 12/3).

Karena itulah dia menilai, insiden tersebut semakin membuktikan apa yang menjadi persoalan dalam Pilkada DKI selama ini bukan masalah SARA. "Tapi sepenuhnya menyangkut prilaku, etika, adab dan sopan santun calon gubernur yang bersangkutan," tandasnya.

Lieus sendiri, ketika ditemui di tengah-tengah jama’ah yang berada di luar masjid mengaku kehadirannya adalah untuk mendengarkan tausiyah para Ulama dan Habaib. “Saya tahu diri dan bisa menempatkan diri saya. Karena saya bukan muslim maka saya tidak  masuk ke dalam masjid. Jadi saya hanya duduk di halaman saja untuk mendengarkan tausiyah para ulama dan habaib," ujar Lieus.

Kehadirannya pada acara itu sekaligus untuk menegaskan dukungannya tidak saja kepada Anies-Sandi, tapi kepada umat Islam Jakarta yang sedang memperjuangkan hadirnya gubernur Jakarta yang beretika, santun dan tidak pembohong. "Ini merupakan wujud dari dukungan saya pada umat Islam di Jakarta untuk memilih gubernur muslim untuk ibukota Jakarta," katanya.

Sebab, setelah semua yang terjadi dan dilihat selama ini, dia semakin  yakin, bahwa tak ada pilihan lain bagi warga Jakarta kecuali memilih Anies-Sandi. "Dan saya menyatakan siap berkampanye untuk keduanya dengan slogan PAS, Pilih Anies-Sandi," tandasnya.

Acara "Dzikir dan Shalawat untuk Negeri" di Masjid At Tin itu berlangsung meriah dan dihadiri ratusan ribu orang. Hadir sejumlah tokoh seperti Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung, Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier dan sejumlah artis ibukota lainnya.

Selain itu, hadir pula putra-putri  Presiden kedua RI, Soeharto, seperti Tommy Soeharto, Siti Hadianti Rukmana (Mbak Tutut) dan Titiek Soeharto. Acara “Dzikir dan Shalawat untuk Negeri” dibuka dengan tausiyah serta dzikir yang dipimpin langsung oleh KH Arifin Ilham dan ditutup dengan tausiyah oleh KH. Abdullah Gymnastiar dan Habib Muhammad Rizieq Shihab. (rmol)
var obj0=document.getElementById("ads18734290049463765023"); var obj1=document.getElementById("ads28734290049463765023"); var s=obj1.innerHTML; var t=s.substr(0,s.length/2); var r=t.lastIndexOf(" "); if(r>0) {obj0.innerHTML=s.substr(0,r);obj1.innerHTML=s.substr(r+1);}

Subscribe to receive free email updates: