KH. Muhammad Hanif: Sudah sejak dulu Para Ulama Kita Melarang Wabah Komunis Menyebar di Indonesia

Loading...



"Para ulama kita sejak dulu sudah melarang wabah komunis menyebar di Indonesia. Ideologi komunis bukan saja berlawanan dengan ajaran Islam khususnya dan agama-agama lain,tetapi juga bentuk serangan terhadap hidup keagamaan pada umumnya,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Muhammad Hanif, M. Hum, dalam diskusi menyikapi isu komunis di wilayah Salatiga di Jakarta, Senin (23/11).
garda cakrawalaPondok pesantren di Salatiga, Jawa Tengah menolak keberadaan komunis.

Bahkan penolakan itu sudah dilakukan sebelum era kemerdekaan RI.

"Para ulama kita sejak dulu sudah melarang wabah komunis menyebar di Indonesia. Ideologi komunis bukan saja berlawanan dengan ajaran Islam khususnya dan agama-agama lain,tetapi juga bentuk serangan terhadap hidup keagamaan pada umumnya,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Muhammad Hanif, M. Hum, dalam diskusi menyikapi isu komunis di wilayah Salatiga di Jakarta, Senin (23/11).

Menurut Muhammad Hanif, generasi muda Islam harus kembali membuka catatan tentang kegigihan umat Islam melakukan perlawanan terhadap komunis. Sehingga semangat menentang komunis terus berkobar.

"Tokoh agama, tokoh bangsa, perumus Pancasila dan pembukaan UUD 1945 juga menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Komunis itu melanggar demokrasi dan HAM," ujarnya.

Sementara itu, Dosen IAIN Salatiga Dr. Aji Nugroho, meminta berbagai pihak untuk tidak melupakan sejarah kelam pemberontakan PKI yang telah membantai tokoh-tokoh bangsa ini, termasuk juga para ulama.

"Sangat jelas PKI bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 karena mengajarkan atheisme," tandasnya.

Aji juga menyorot majalah kampus ‘Lentera’ terbitan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga yang memuat judul cover ‘Salatiga Kota Merah’ edisi Oktober 2015.

Cover majalah ini menggambarkan massa PKI yang membawa bendera berlambangkan ‘palu arit’.

Majalah ini pun menuai protes terutama dari kalangan umat Islam, yang dinilai telah menciderai wajah kota Salatiga yang selama ini sudah baik dan dikenal agamis.

Ketika Lentera menerbitkan edisi tersebut, beberapa daerah langsung pro aktif mencounter dengan memasang spanduk ‘Salatiga Kota Hijau’.

Meski akhirnya majalah tersebut sudah dibreidel oleh rektorat kampus, Aji mengingatkan masyarakat jangan terkecoh dengan isu demokrasi dan HAM yang digunakan untuk mewadahi komunisme di Indonesia.

Karena bagaimana pun paham komunisme jelas melanggar demokrasi dan HAM.

"Ideologi Pancasila adalah ideologi paling tepat di Indonesia yang masyarakatnya multi kultur, agamis dan masih menjunjung tinggi adat ketimuran," paparnya. (tribunnews)




loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...