Mengenang,Gegernya Warga Madura Oleh Koramil Yang Larang Untuk Shalat, Jama'ah: PKI Sampean!


garda cakrawalaCerita-cerita jenaka banyak dikaitkan dengan orang Madura. Salah satunya disampaikan Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid saat menjadi narasumber diskusi publik dengan tema Merawat Pemikiran Guru-guru Bangsa yang diselenggarakan Universitas Paramadina dan Nurcholish Madjid Society di Jakarta, Rabu (12) sore.

Yenny Wahid bercerita tentang strategi orang NU Madura membela diri ketika zaman Orde Baru Presiden Soeharto. 
Pada waktu itu, kata Yenny, pemerintah menetapkan semua umat Islam Indonesia baik Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri di hari yang sama. 

Hal tersebut ditetapkan karena biasanya NU dan Muhammadiyah berbeda dalam berlebaran. Untuk itu, maka Presiden Soeharto mengerahkan Koramil untuk melarang siapa saja yang berlebaran di hari yang tidak ditentukan pemerintah. 

Dalam menentukan jatuhnya Hari Raya, Presiden Soeharto lebih condong ke Muhammadiyah. Sontak itu membuat geger warga NU. Banyak warga NU yang ikut pemerintah karena takut diancam Koramil. Namun, hal itu tidak berlaku bagi orang Madura.

Seorang NU Madura mau menjalankan Shalat Idul Fitri di lapangan. Kemudian orang Madura itu dihampiri oleh salah satu anggota Koramil.

“Bubar-bubar ndak boleh, ndak boleh shalat,” cerita Mbak Yenny menirukan gaya Koramil.

Lalu kemudian, orang Madura tersebut marah dan protes kepada anggota Koramil itu. “Sampean ini bagaimana tak iye. Orang ndak sembahyang ndak dilarang. Orang mau sembayang dilarang. PKI sampean!” (nu)




Subscribe to receive free email updates: