Degradasi Nilai Pancasila Juga Picu Konflik Daerah - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2381557/degradasi-nilai-pancasila-juga-picu-konflik-daerah?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook#sthash.XPVHvwij.dpuf


garda cakrawala -  Jakarta - Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin menilai mulai ditinggalkannya nilai-nilai luhur Pancasila jadi salah satu faktor pendorong maraknya aksi reaksi yang muncul di daerah yang kerap membawa isu SARA.
"Yang pailng penting faktor berikut adalah karena kita meninggalkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Baik dalam sistem kenegaraan kita maupun dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena ini adalah akibat kebebasan yuang terlalu besar dinikmati oleh bangsa ini yang membawa perubahan struktur atau infrastruktur kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesungguhnya bertentangan dengan nilai Pancasila. Semisal sistem politik kita termasuk dalamnya sistem pemilu tidak secara sejati merefleksikan sila keempat pancasila. Tetapi telah berubah menjadi demokrasi liberal bahkan lebih liberal dari negara kampiun deomokrasi seperti Amerika," katanya kepada INILAHCOM, Sabtu (27/5/2017).
Perubahan lain juga terjadi pada sistem ekonomi Indonesia yang dianggapnya mulai tidak sejalan dengan pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
"Begitu pula sistem ekonomi kita tidak sejalan dengan pasal 33 UUD 45 yan9 menekankan kegotongroyongan dan peran negara yang melindungi. Tapi justru berubah jadi ekonomi liberal yang hanya membuat kelopok terbatas yang menguasai perekonomian. Kalau mau rawat persatuan perlu ada penyesuaian pada dasar negara itu sendiri. Jadi memang maslahnya serius tidak bisa diatasi dengan sekedar wacana atau komunikasi politik yang bersifat meredam daripada mengatawsi persoalan dasar," ulasnya.
"Maka inilah saatnya kita kita ambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa itu untuk lakukan perubahan yang mendsar dengan mengembalikan kehidupan nasional ke acuan dasarnya yang adalah Pancasila dan UUD 1945," sambungya.
Diketahui sebelumnya tensi sosial politik di sejumlah daerah mulai mendidih. Isu SARA jadi senjata utama untuk menciptakan konflik ini. Kondisi ini pun sontak dinilai banyak kalangan bisa menjadi bumbu-bumbu perpecahan bangsa.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya mengajak seluruh elemen masyarakat, politisi dan pemuka agama untuk senantiasa mewujudkan kerukunan dan stabilitas nasional.
Hal itu guna menjaga kokohnya NKRI. Kemudian kembalinya bangsa Indonesia pada persaudaraan sebangsa dan setanah air, serta tak terbawa pihak-pihak yang ingin mengadudomba masyarakat agar terjadi perpecahan di NKRI. [inilah]




var obj0=document.getElementById("ads15130526285956214705"); var obj1=document.getElementById("ads25130526285956214705"); var s=obj1.innerHTML; var t=s.substr(0,s.length/2); var r=t.lastIndexOf(" "); if(r>0) {obj0.innerHTML=s.substr(0,r);obj1.innerHTML=s.substr(r+1);}

Subscribe to receive free email updates: