Kapolri: ISIS Itu Anggap Polisi Kafir Harbi

Loading...

garda cakrawalaKapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan jaringan teroris yang meledakkan bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, menganggap polisi adalah kafir harbi. Jaringan teroris yang meledakan dua bom itu berafiliasi dengan ISIS Bahrun Naim.

"Tentu kami melihat memang Polri menjadi sasaran, karena memang doktrin mereka. Kita harus paham bahwa ISIS itu dibentuk oleh dua komponen utama yaitu yang pertama tauhid wal jihad in irak, serta komponen eks militer Saddam Hussein yang dibubarkan, sehingga ideologi yang dibawa oleh mereka tauhid wal jihadnya adalah Takfiri," kata Tito di RS Polri Kramat​ Jati, Jakarta Timur, Jumat (26/5).

Dia mengatakan dalam ideologi takfiri yang dianut oleh anggota ISIS konsep utamanya adalah Tauhid. Sehingga ideologi yang tidak berdasarkan tauhid dianggap haram dan kafir. Pembela ideologi yang tidak berdasarkan tauhid disebut thagut, termasuk Polri.
"Tauhid wal jihad di Indonesia juga yang dipimpin Aman Abdurrahman, tahun 2003 terjadi ledakan di Cimanggis. Pendukung utama dari tauhid wal jihad di Irak yang dipimpin oleh Abu Muhammad Maqdisi itu juga mengusung ideologi Takfiri yang konsep utamanya adalah tauhid, yaitu segala sesuatu harus berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Sehingga, bagi mereka yang tidak sesuai dan tidak berasal dari Tuhan, dianggap mereka adalah haram atau kafir," ungkapnya.

Ideologi itu juga membuat para teroris itu menentang demokrasi dan Pancasila. Mereka menganggap orang yang menganut ideologi Pancasila adalah kafir. Termasuk juga elemen pendukung negara seperti Polri dan TNI.

Mantan Kepala BNPT itu mengatakan ada dua jenis kafir yang dimaksud oleh kelompok ISIS. Pertama adalah kafir harbi dan kedua adalah kafir dzimi. Kafir harbi adalah kaum kafir yang dianggap menyerang atau memusuhi mereka.

"Sedangkan kafir yang kedua adalah kafir dzimi yang tidak menyerang mereka tapi harus tunduk kepada mereka. Nah, Polri bagi mereka adalah kafir​ harbi yaitu yang menangkap kemudian yang menegakkan hukum kepada mereka dan dianggap menzalimi mereka," kata Tito.

Tito menegaskan tugas Polri sebagai penegak hukum dan pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. "Tentunya kami tidak ingin aksi-aksi kekerasan apa pun bentuknya termasuk terorisme tidak boleh terjadi dalam negara kita," sambungnya.

"Oleh karena itu, kita menegakkan hukum kepada mereka. Nah bagi mereka kita adalah kafir harbi. Kafir harbi prioritas untuk dimusuhi dan diserang," kata dia.

sumber : kumparan





loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...