Lima Seruan PBNU Usai Bertemu Presiden Jokowi


garda cakrawala -- Presiden Joko Widodo mengundang Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menghadiri forum Silaturahim Kebangsaan di Istana Merdeka. Presiden didampingi Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, sedang PBNU diwakili Sekretaris Jenderal Helmy Faishal Zaini.

Presiden Joko Widodo membuka forum dengan memaparkan situasi dan kondisi kekini yang dihadapi Indonesia. Ia mengajak seluruh tokoh lintas agama yang hadir, untuk bersama-sama mendinginkan suasana lewat forum-forum di lingkup agama masing-masing.

Selain itu, Presiden secara eksplisit meminta tokoh lintas agama untuk berperan aktif, dalam membangun semangat kebangsaan agar tercipta suasana aman, tenteram dan kondusif. Sedangkan, melalui rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (16/5), Helmy memberikan lima seruan yang didapat dari pertemuan tersebut.
  1. PBNU menegaskan kembali komitmen setia mengawal Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
  2. PBNU mengajak semua pihak untuk menahan diri agar tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang menginginkan perpecahan bangsa. Perbedaan harus kita jadikan sebagai khazanah yang justru memperkuat tali ukhuwah, bukan malah memecah-belah. Ukhuwah wathoniyah (persaudaraan sebangsa) harus tetap dijaga sebagai elemen pemersatu bangsa.
  3. Hentikan pertentangan yang berlaut-laut dan berkepanjangan. Sebagai negara hukum, kita harus menghormati proses hukum yang sedang berjalan, apapun keputusannya.
  4. PBNU secara pro-aktif akan membangun halaqah kebangsaan dengan pelbagai elemen bangsa. Salah satunya dalam waktu dekat halaqah kebangsaan bersama PP Muhammadiyah.
  5. PBNU secara khusus mengajak kepada warga NU untuk membaca doa Qunur Nazilah, memperbanyak dzikirullah dan shalawat nabi sebagai bagian dari ikhtiar doa bagi terciptanya suatu tatanan masyarakat Indonesia yang damai, aman dan tenteram.

Presiden Joko Widodo juga menyampaikan kalau dinamika yang terjadi semoga menjadi bagian dari proses pematangan dalam berdemokrasi.  Suatu perubahan yang diharapkan akan memperkokoh rasa kebangsaan sebagai modal dalam upaya menyejahterakan masyarakat menuju masyarakat yang berkeadilan.

Tokoh lintas agama yang hadir seperti Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia Ignatius Suharyo dan Ketua Persekutuan Gereja Indonesia Henriette Hutabarat. Ada pula Ketua Perwakilan Umat Budha Hartiati Murdaya, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia Wisnu Bawa Tanaya dan ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Uung Sendana Linggraja.republika

Subscribe to receive free email updates: