Polisi Intimidasi Wartawan Yang Sedang Meliput, Ratusan Jurnalis Geruduk Polda Sumsel


garda cakrawalaRatusan wartawan Palembang menggelar aksi damai terkait arogansi anggota Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya merampas handphone dan penghapusan foto serta video hasil peliputan penggerebekan rumah pelaku kejahatan di Palembang. Para jurnalis dari berbagai media ini menuntut pelaku disanksi tegas sesuai undang-undang.

Unjuk rasa digelar di depan Mapolda Sumsel, Jumat (12/5). Awak media membawa spanduk berisi kecaman atas intimidasi aparat kepolisian. Mereka juga menggantung id card wartawan di pagar sebagai tanda berkabungnya kekerasan yang kembali terjadi terhadap jurnalis.

Koordinator aksi jurnalis, Muslim menyesalkan arogansi aparat penegak hukum. Apalagi dilakukan terhadap jurnalis perempuan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Mestinya, aparat kepolisian menjadi mitra dan memahami tugas wartawan.

"Tidak ada kata selain menuntut oknum polisi itu dihukum sebagai efek jera. Tolong pahami dan baca UU pers," ungkap Muslim.

Peristiwa itu menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap jurnalis selama beberapa tahun terakhir. Pelakunya adalah polisi yang pada World Press Freedom Day 2017 dinyatakan sebagai musuh bersama kebebasan pers oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

"Kami kecam tindakan itu, kami bekerja untuk kepentingan publik. Kami tidak bisa dihalangi dalam memperoleh data akurat," ujarnya.

Perwakilan jurnalis diterima Kabag Bin Ops Direktorat Sabhara Polda Sumsel, AKBP Gun Hariadi. Dia menyampaikan permohonan maaf dan menyesalkan kejadian itu. Meski demikian, pihaknya akan meneruskan tuntutan ke Mapolda Metro Jaya sebagai tempat pelaku berdinas.

"Kami hargai solidaritas wartawan di Palembang, apapun yang disampaikan akan diteruskan," ucapnya. (ma)





Subscribe to receive free email updates: