Dua Kebijakan Pemerintah Habiskan Rp6000 Triliun, Kalla: Indonesia jadi Tertinggal

Loading...

garda cakrawalaWakil Presiden Jusuf Kalla menganggap ada dua kebijakan keliru yang dilakukan pemerintah, sehingga harus merogoh kocek anggaran mencapai Rp6 ribu triliun. Atas hal itulah, Indonesia menjadi tertinggal dari negara-negara tetangga.
“Dalam 10-15 tahun terakhir, kenapa kita tertinggal dengan Malaysia, Thailand atau kenapa tidak maju. Ada dua hal pokok saja sehingga kita tidak semaju yang lain,” kata Kalla dalam sambutan acara Simposium Ekonomi di gedung MPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (12/7) kemarin.
Terutama, kata Kalla, Indonesia mengalami kerugian banyak pada krisis ekonomi pada tahun 1997-1998. Kerugian itu, lanjut dia, jika dikonversi ke rupiah pada tahun itu sangatlah besar.
Terlebih, ketika itu, Indonesia masih menganut paham liberalisme dan melakukan regulasi sehingga bank-bank banyak berdiri di Indonesia. Ketika itu, lanjut dia, berdiri sekitar 250 bank di Indonesia.
Akibatnya, lanjut Kalla, setiap bank yang ada bersaing dan memberikan bunga tinggi dan menyebabkan kredit macet. Apalagi, kesalahan pemerintah adalah melakukan penjaminan sehingga menerbitkan blanket guarantee dan BLBI dengan nilai total Rp 600 triliun.
“Kalau diukur dengan bunganya dan nilai saat ini itu nilainya setara bisa sampai Rp 3000 triliun.”
Kemudian, lanjut Kalla, kesalahan kedua adalah pemberian subsidi yang sangat besar, terutama untuk Bahan Bakar Minyak pada tahun 2013-2014 dengan nilai Rp 400 triliun. Nilai itu setara 25 persen dari total APBN.
Dalam sepuluh tahun pemerintahan sebelumnya, subsidi mencapai Rp 3000 triliun. “Kalau Rp 6000 triliun itu sama dengan sekitar 25 tahun kita membangun infrastrukur. Bayangkan semuanya itu, kalau saja setengahnya saja itu untuk pembangunan, pasti kita bisa maju lewati Thailand, Malaysia.”
Dua kebijakan yang keliru, kata Kalla sudah menghabiskan ongkos dari kebijakan itu mencapai Rp 6000 triliun. “Itu tidak jatuh ke rakyat tapi ke orang yang punya uang, sehingga terjadilah gini rasio yang tinggi. Orang mampu makin mampu, orang miskin tidak naik pangkatnya.”
Hal ini, kata dia, harus menjadi tanggungjawabnya untuk mengingatkan kembali kesalahan dulu untuk tidak dilakukan lagi di masa akan datang. “Tentu ini tanggung jawab saya, tapi kita juga selalu kembali mengingatkan akan kesalahan-kesalahan itu.”
sumber : aktual



loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...