Kenapa Umat Muslim Harus Mampu Berbahasa Isyarat?

Loading...


garda cakrawala - Menurut Pieter Angdika, peneliti muda Laboratorium Riset Bahasa Isyarat (LRBI) Universitas Indonesia, saat ini di Indonesia terdapat 34 orang juru bahasa isyarat yang merupakan tenaga sukarelawaan dari Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat (PLJ), padahal jumlah Tuli di Indonesia mencapai 2 juta orang. Dikutip dari Tribun Solo, Minggu (25/9/2016).

Sedikitnya juru bahasa isyarat tentunya membuat Tuli kurang diberi tempat di masyarakat baik dari aspek pendidikan, pelayanan, dan sebagainya. Pada akhirnya mereka hanya mendapatkan sedikit pengetahuan tentang beberapa hal termasuk masalah keislaman.
Menurut Mufti Lazuardi, salah satu pendakwah sekaligus penerjemah bahasa isyarat yang kini berfokus di Aksi Tuli Sidoarjo. Di Indonesia sendiri belum banyak pendakwah yang mampu berbahasa isyarat. Tuli memang bisa mengakses informasi melalui video bersubtitle di internet. Tapi kita saja ketika mendapati sebuah informasi secara visual seringkali masih butuh untuk diperjelas secara auditorial atau mendengarkan penjelasan secara langsung.

Tentunya ini menjadi salah satu hambatan bagi Tuli ketika menemukan informasi visual yang membutuhkan penjelasan jika angka juru bahasa saja masih minim.

“Saat bulan Ramadhan ada banyak sekali ceramah agama. Kita bisa mudah mendapatkannya di masjid atau televisi. Ketika Tuli juga ingin ikut menyimak dan mendapatkan ilmu, bagaimana caranya kalau tidak ada juru bahasanya?” tutur Mufti.

Banyak penganut Kristen yang jauh-jauh hari sudah melakukan misi kristenisasi kepada Tuli. Lantas kapan kaum muslim mau terjun berdakwah langsung kepada Tuli menggunakan bahasa isyarat?

Mufti juga bercerita bahwa sempat terjadi peristiwa pemerkosaan terhadap wanita Tuli, tetapi karena minimnya pengetahuan masalah reproduksi, wanita Tuli tersebut tidak mengetahui bahwa dirinya telah diperkosa. Ini menunjukkan betapa mereka perlu untuk dirangkul, dipahami dan diajak untuk sharing tentang banyak pengetahuan yang barangkali sedikit mereka dapatkan di sekolah. Hal ini tentu diwali dengan cara mempelajari bahasa isyarat.
Banyak keluarga yang tidak siap ketika mendapati anaknya lahir dengan kondisi Tuli, atau terkena gangguan pendengaran sehingga kurang bisa mendengar. Mereka cenderung putus asa dan tidak jarang memilih untuk segera menikahkan anak perempuannya yang Tuli. Padahal anak Tuli mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, mengeksplorasi dunia lebih jauh atau menggapai mimpi-mimpinya menjadi orang sukses.

Sudah saatnya kita lebih peduli terhadap mereka. Terutama dalam masalah keislaman bagi yang muslim. Karena mereka juga punya hak untuk dapat memahami Islam lebih jauh dan lebih dalam yang barangkali bisa didapat dari kita. Atau paling tidak, kita bisa menerjemahkan suatu materi dakwah kepada mereka sehingga mereka juga sama-sama memperoleh ilmu tentang agama.

Oleh: Hurum M. [opinibangsa.id / vic]
loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...