Luhut Bela Bosnya Soal Utang Segunung

Loading...

garda cakrawala - Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan pasang badan untuk Presiden Joko Widodo. Lantaran, utang luar negeri terus menggunung di era Jokowi-JK.
"Jadi yang ngomong itu (utang pemerintah besar) kadang-kadang tidak mengerti, suruh yang pintar mengkritik datang ke saya, suruh datang, jelasin ke saya," tegas Luhut di Gedung DPR, Jakarta, Senin (10/7/2017).
Dari data Kementerian Keuangan, utang negara per Mei 2017 menembus Rp3.672,33 triliun. Angka ini naik Rp4,92 triliun dibanding bulan sebelumnya yang mencapai Rp3.667,41 triliun. Jumlah ini naik Rp201 triliun dibandingkan posisi Desember 2016. Dan, pemerintahan Jokowi sejak dilantik hingga sekarang, telah menyumbangkan utang negara sebanyak Rp 1.067 triliun.
Luhut kembali menjelaskan, sebagian besar utang-utang yang dilakukan diera Jokowi sebagian besar dilakukan untuk membiayai proyek pembangunan infrastruktur.
"Utang itu sepanjang tidak untuk membayar utang atau bunga utang, tidak apa-apa. Kalau saya ini kan pedagang, kalau saya pinjam, uang itu jadi produktif, nah proyek itu yang bayar utang itu. Apa masalahnya?" kata Luhut.

Arie Untung: Ada Pembacokan, Sayang Mereka tak Ninggalin KTP Kaya “Tukang Panci”


Luhut pun sesumbar bahwa utang pemerintah saat ini masih aman saja bahkan nomor dua lebih baik dibandingkan negara lain di dunia.
Sebelumnya, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng bilang, pemerintah terkesan menyepelekan utang negara yang terus meningkat. Kata dia, utang yang terus melambung tinggi itu membuat satu penduduk Indonesia menanggung utang negara sebesar Rp13 juta.
Dan, konsekuensi utang yang tinggi tersebut membuat pemerintah menggenjot pendapatan dari dalam negeri yaitu peningkatan pajak dan fiskal. Selain itu, pemerintah akan menurunkan subsidi terutama subsidi gas dan listrik yang sudah pasti membebani rakyat,
Akibat meningkatnya utang, pemerintah dan aset aset pemerintah berada dalam ancaman bisa disita investor, karena tidak bisa membayar kewajiban bunga dan utang yang jatuh tempo.
Para analis menyatakan, seharusnya pemerintah meningkatkan subsidi di sektor riil seperti pertanian, perkebunan dan industri kreatif untuk menggenjot perekonomian nasional. Bukannya malah menggenjot utang dan menguber pajak rakyat. Kondisi ekonomi yang lesu itu membuat rakyat kecewa.

Kecam Penikaman Hermansyah, Habib Novel: Ini Novel Baswedan Kedua


Toh, rakyat terus berjuang keras untuk bertahan hidup, namun ekonomi terus merosot, pendapatan berkurang dan bisnis pun lesu darah, rakyat juga merasa dipajaki ugal-ugalan, dan subsidi dicabut, dimana seolah rakyat sudah tak layak disubsidi lagi.
Celakanya, situasi itu berbanding terbalik dengan penghasilan dan kesejahteraan pejabat termasuk Presiden Joko Widodo yang justru meningkat pesat. [inilah]




loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...