Ribut-Ribut soal Bengkaknya Utang, Bikin Menko Luhut Naik Pitam!

Loading...


garda cakrawalaMenteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan naik pitam karena beberapa pihak mempertanyakan besarnya utang yang dimiliki Indonesia. Luhut dengan tegas mengatakan, selama digunakan untuk hal yang bisa memberi keuntungan kembali seperti proyek pembangunan, jumlah utang tak menjadi masalah.Sekadar mengingatkan saja, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan melansir, utang pemerintah pusat hingga Mei 2017 mencapai Rp3.672,33 triliun.


 Utang ini terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2.943,73 triliun (80,2%) dan pinjaman sebesar Rp728,60 triliun (19,8%). Adapun porsi utang tersebut terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2.943,73 triliun (80,2%) dan pinjaman sebesar Rp728,60 triliun (19,8%).


"Gini ya, utang itu sepanjang tidak digunakan untuk membayar utang atau bunga utang, itu tidak apa. Kalau saya ini kan pedagang nih, kalau saya pinjam uang, uang itu jadi produktif, nah proyek itu yang bayar utang itu. Apa masalahnya?" ungkap Luhut di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (10/7/2017).

Luhut meyakini, jumlah utang Indonesia saat ini masih aman. Hal ini terlihat dari rasio utang di Indonesia yang hanya mencapai 28% dari produk domestik bruto (PDB). Menurut Luhut, berbagai persoalan di Indonesia harus dilihat secara menyeluruh. Luhut mengingatkan berbagai pihak agar tak lagi melakukan hal-hal yang menghabiskan energi.

"Utang kita tambah, memang utang kita tambah, tapi pada sektor yang produktif. Kedua, rasio utang kita terhadap GDP masih di bawah 28%. Ada yang ngomong ini kebesaran. Saya katakan, eh kau datang ke saya, Luhut Pandjaitan kau challenge saya. 

Tapi jangan ngomong di luar tanpa data," kata Luhut di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (12/7/2017).Luhut menjelaskan, dengan banyaknya investasi yang dilakukan pemerintah, maka akan menambah banyaknya utang. Sebab, kebutuhan dana untuk melakukan investasi cukup besar.

"Ya gimana orang investasi tidak dihitung utang, masa orang kasih uang ke kamu saja. Logikanya kamu di mana? Yuk suruh yang pintar mengkritik itu suruh datang ke saya. Suruh datang, jelasin ke saya,” ujarnya, Jakarta, Senin (10/7/2017).Menurutnya, saat ini Indonesia belum bisa mengurangi utang karena sedang melakukan pembangun proyek infrastruktur yang membutuhkan dana yang tak sedikit. Namun, semua infrastruktur itu tak akan mengandalkan APBN, tapi akan mencari investor swasta.

"Ya tidak mungkin (hemat anggaran), saya beri contoh, pembangunan infrastruktur kita butuh USD450 miliar, APBN hanya bisa menyervis itu USD120 miliar. Sisanya dari mana? Itulah yang disebut foreign direct investment. Nah, sekarang China nih datang, kemarin saya temani di Parapat, ikut dia sidang, dia kaget begini ternyata proses pengambilan keputusan di sini, cepat, dia saya beri contoh yang tadi itu," ujarnya."Nah, dia mau investasi USD25 miliar, B to B, bukan G to G. Dia cari partner Indonesia, kami partner kan, misalnya dengan PP. Misalnya dengan private sector kita. Merekalah yang main. 


Masalahnya di mana?" tutur Luhut.Luhut menegaskan, rasio utang Indonesia masih terjaga dengan baik. Mantan Menko Bidang Polhukam ini kembali menantang debat sejumlah pihak yang merasa "sok jago" mengkritik utang pemerintah.“Rasio utang masih sangat baik, detailnya bisa tanyakan ke Pak Agus Marto (Gubernur BI)  ini soal utang B to B kok, orang melihat saya keras karena mantan tentara, gini-gini saya ngerti lah barang ini!" tegas Luhut pada rakor pemerintah, pemda, dan Bank Indonesia tentang diversifikasi pertumbuhan ekonomi daerah di Balikpapan, Jumat (14/7/2017).Menurut Luhut, utang tidaklah masalah sepanjang digunakan untuk sesuatu yang bersifat produktif  selama pemerintah menggunakannya untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur."Kita (pemerintah) lakukan sesuai data, sudahlah semua harus fokus pada pembangunan terutama di daerah!" tegas Luhut.





loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...