Ceramah Kebangsaan Di LIPI, Mega: Saya Dianggap Alien

Loading...



Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri berguyon banyak politisi hingga sejarawan yang menganggap dirinya sosok yang aneh. Saking anehnya, putri proklamator itu mengatakan jangan-jangan dirinya dianggap bukan makhluk bumi, melainkan alien.

"Kalau orang lihat saya itu berat lho, kadang-kadang saya mikir guyon dalam batin. Saya ini seperti dianggap alien apa ya," ujar Mega saat menyampaikan ceramah kebangsaan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, kemarin.

"Ngeliatnya aneh lho, betul. Kalau politikus lihat saya tuh, ehm piye. Kalau sejarawan lebih mikir. Sebetulnya saya makhluk Indonesia yang berada di mana ya. Apa terlalu banyak pengalaman saya?" tambah Mega yang disambut gelak tawa hadirini.

Apa maksud guyonan Mega ini? Setelah mengucap dirinya jangan-jangan dianggap alien alias makhluk khayalan yang ada di film, Mega bercerita banyak tentang biodata dirinya alias curriculum vitae (CV). Dia pun berkelakar, kalau CV-nya dipampang akan membuat orang terbengong-bengong. Namun, dia memilih merahasiakannya.

Alasannya, "Untuk apa (dipamerin). Ya sudah, kalau orang anggap saya bodoh ya ngga apa-apa. Makanya saya ngga setuju kalau doktor-doktor itu ditaro (di-cv)," kata Mega.

Mega tak ingin keengganannya menaruh gelar pendidikan dipersoalkan. Namun, dia memastikan memiliki gelar dalam dunia pendidikan. "Yang tahu, cuma saya kok," terangnya.

Seperti diketahui, dari informasi yang dihimpun, Mega belum menyelesaikan studi strata 1 (sarjana). Dia sempat kuliah di Unpad bidang pertanian, kemudian di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Keduanya belum rampung.

Belakangan, tepatnya pada Mei 2016, Mega menerima gelar kehomatan Doctor Honoris Causa bidang politik dan pemerintah dari Universitas Padjadjaran Bandung. Saat itu, Rektor Unpad, Tri Hanggono Achmad mengatakan, pemberian gelar doktor Honoris causa ini telah melalui rangkaian kajian akademik tidak mendadak. Menurutnya, dari aspek akademis gagasan-gagasan original dari pemikiran Mega bisa bermanfaat bagi generasi muda Indonesia.

Nah, tidak hanya berguyon, pidato Mega kemarin juga banyak seriusnya. Misalnya soal dukungan dirinya atas tindakan Presiden Jokowi menerbitkan Perppu Ormas. Mega mengatakan apa yang dilakukan Jokowi itu konstitusional. "Saya bela-bela mati-matian konstitusional, seorang presiden itu membuat perpres, perppu, memangnya nggak boleh apa? Boleh," tegasnya.

Mega berpendapat wajar saja Jokowi mengeluarkan perppu apabila situasi dianggap darurat. Apa yang dilakukan Jokowi itu, menurutnya, untuk keselamatan negara. "Boleh nggak presiden bikin perppu. Saya juga pernah jadi presiden. Boleh, kenapa nggak boleh?" tutur Mega.

Mega pun menyinggung soal presidential threshold dalam UU Pemilu yang baru saja disahkan DPR. Dia meminta masyarakat menghargai apa yang telah diputuskan dalam suatu musyawarah mufakat.

"Mohon maaf dengan segala hormat, apakah akibat penjajahan selama ratusan tahun sehingga mentally kita ini karena ini tadinya menjadi rakyat terjajah itu tidak bisa menerima yang namanya musyawarah untuk mufakat," tegasnya. [rmol]




loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...