Din Syamsudin: Demo “Bunuh Menteri”, Itu Radikal!

Loading...

garda cakrawalaMantan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsudin menyebut penolakan pihak Nahdlatul Ulama (NU) terhadap konsep full day school sebagai kesalahpahaman. Pasalnya full day school tidak akan mengubah konsep Madrasah Diniyah yang telah diterapkan oleh NU pada sekolah-sekolah dan pesantrennya.

Menanggapi beredarnya video santri yang berunjuk rasa sambil meneriakkan “bunuh saja menterinya”, Din mengatakan tindakan tersebut sebagai tindakan radikal yang perlu diatasi dengan pendidikan.

“Pada hemat saya cobalah disikapi dengan jernih cara beradab jangan pakai demo-demo apalagi teriak-teriakannya bunuh menteri bunuh menteri itu radikal. Itulah watak-watak radikal yang sebetulnya perlu diatasi,” ucap Din, di Jakarta, Selasa (15/8).

Din berpendapat agar pihak-pihak yang menolak full day school untuk mempertimbangkan aspek.karakter dan akhlak siswa lewat keluarga, sebab pada konsep full day school sendiri, siswa akan lebih banyak memiliki waktu luang bersama keluarga di akhir pekan.

“Mari kita pahami keinginan pemerintah pada siswa-siswa untuk penanaman nilai-nilai akhlak karakter bangsa itu. Sisi lain punya waktu untuk keluarga pada akhir pekan. Runtuhnya akhlak ini karena keluarga keluarga tidak punya waktu banyak,” kata dia.
Din juga berpendapat, full day school bukan upaya untuk mematikan Madrasah Diniyah, bahkan dia mengatakan salah jika Madrasah Diniyah diklaim hanya milik satu golongan tertentu saja.

“Selain itu, jangan mematikan Madrasah Diniyah Nanti dia tulis aja waktunya dan Madrasah Diniyah itu bukan hanya memiliki satu atau dua organisasi tetapi milik semua organisasi Islam. Tidak ada satu organisasi Islam yang dia mengklaim hanya memiliki Madrasah Diniyah. Madrasah Islam itu luas Salah satunya Madrasah Diniyah. Waktunya pun sangat bervariasi ada yang mulai jam 14.00 jam 16.00 bahkan malam. Jadi tidak bisa dipukul rata,” tegas Din.

Terkait penolakan NU terhadap full day school, Din berharap sebaiknya tidak dibawa pada urusan politik praktis hanya karena kementerian pendidikan diduduki oleh Muhammadiyah. Ia memohon sebaiknya kedua belah pihak saling membantu.

“Oleh karena itu jangan masalah ini di bawa politik individual, kebetulan menterinya Muhammadiyah malu lah ngomongin itu. Malulah umat Islam kalau berbicara tentang posisi politik. Kebetulan jabatan politiknya dipegang oleh ormas Islam yang satu, jangan ormas Islam yang lain kemudian menjegal, bila perlu membantu,” lanjut Din.

Din menuturkan, begitu juga nanti ketika ada menteri dari NU, organisasi lain misalnya Muhammadiyah, jangan menggugatnya.

“Ini etika ukhuwah kita yang sudah mulai retak. Ini menurut saya yang sudah di rasuki oleh pikiran-pikiran radikalis. Kalau kita bicara jangan radikal tetapi perilaku kita radikal. Bicarakan saja masalah ini baik-baik. Jangan main Pokoke kalau sudah main Pokoe itu pikiran radikal masih bisa didiskusikan. Kalau di kita adalah tabayun,” tutup Din.




loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...