Pancasila bukan palugada

Loading...

garda cakrawalaKeteladanan para founding fathers adalah lentera bangsa yang harus tetap dinyalakan. Mereka adalah figur-figur negarawan berjiwa Pancasila dengan segala pengorbanan yang dipersembahkan.
Keteladanan mereka layak untuk dihidupkan kembali agar negeri ini tetap optimis untuk menjemput cita-citanya. Tak terkecuali keteladanan dua sahabat lintas iman antara Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (pendiri Partai Katolik Indonesia) dan Natsir (tokoh Masyumi) yang perlu dihadirkan kembali di tengah tergerusnya nilai-nilai toleransi saat ini.
Pak Kasimo dan Pak Natsir pernah berdebat sengit di parlemen, namun demikian keduanya tetap akrab dengan bersepeda bersama setelah adu argumentasi di parlemen waktu itu. Pak Kasimo adalah sosok negarawan dengan pribadi yang lentur dan toleran. Perbedaan keyakinan tidak menghambatnya membantu Pak Prawoto, mantan wakil perdana menteri yang juga merupakan pribadi yang jujur, berdedikasi, dan sangat sederhana. Ketetika hendak membeli rumah yang sudah lama ia kontrak, Pak Kasimo membantunya.
Demikian juga persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta yang tetap hangat dan akrab, meski mereka berbeda pandangan yang tidak ada titik temunya tentang demokrasi. Kedekatan keduanya terlihat ketika teks Proklamasi hendak dibacakan, Bung Karno mencari Bung Hatta untuk mendampinginya, bahkan Soekarno enggan membaca teks Proklamasi apabila tidak didamping Hatta.
Sikap keteladanan seperti inilah yang harus ditumbuhkan saat ini, di tengah merebaknya isu SARA pemecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Sikap permusuhan, hilangnya empati, saling lapor dan rasa dendam tidak hanya dijumpai di kalangan masyarakat akar rumput. Akan tetapi juga kerap dilakukan oleh para elit politik.
“Saat di balik pangggung politik mereka adalah pribadi-pribadi yang agung, rendah hati, dan bersahabat. Di balik panggung tersebut, para pendiri bangsa ini tak menyimpan kedengkian dan dendam,” kata Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dalam pidatonya di Kompleks, Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8).
Pancasila bukan palugada
Politisi PAN ini meyakini bahwa Pancasila dan UUD 1945 bukanlah palugada terhadap pihak yang tidak satu pandangan, tidak satu barisan atau tidak satu partai dalam berindonesia.

Menurutnya Pancasila dan UUD 1945 adalah muara bersama dari beragam mata air. Karena itulah, lanjut dia, Pancasila disebut sebagai ideologi terbuka. Oleh sebab itu dia menyarankan mereka yang kerap menuding kelompok lain tidak Pancasilais agar mempelajari kembali Pancasila.
“Karena itu, jika ada pihak-pihak yang melakukan klaim-klaim sebagai yang Pancasilais dan menuduh yang lain tidak Pancasilais, maka yang bersangkutan harus belajar lagi tentang sejarah Pancasila. Mari kita berlaku bijak, dewasa, dan satria,” ungkapnya.
Dalam pidatonya tersebut, Zulkifli juga memuji prestasi, capaian, dan keberhasilan pemerintahan Presiden Jokowi. Namun demikian, dia juga menyampaikan hal-hal yang masih dikeluhkan masyarakat tentang kesempatan kerja, penurunan daya beli, kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat.
"Kita sebagai sesama anak bangsa harus saling yakin meyakini dan saling percaya mempercayai. Bukan saling menuduh dan saling mencurigai. Sekali lagi kita harus memiliki persamaan keyakinan hidup tentang berbangsa satu, bertanah air satu," ungkap Zulkifli sebelum mengakhiri pidatonya.
rima




loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...