ARSA Tegaskan Hadir untuk Melindungi Muslim Rohingya

Loading...

Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) atau Harakah al-Yaqin (HaY) disebut oleh militer Myanmar sebagai penyebab munculnya konflik di Rakhine. Militer Myanmar beralasan mereka diserang terlebih dahulu oleh ARSA sehingga mereka melakukan balasan.
ARSA sendiri mengakui bahwa merekalah yang melancarkan serangan hari Jumat (25/8) itu. Serangan itu mereka lakukan karena tindakan kejam yang dilakukan oleh militer Myanmar bersama militan biksu Budha yang membantai, memperkosa, memutilasi bayi dan anak-anak serta membakar perkampungan mereka.
Pemimpin ARSA Ataullah Abu Ammar Jununi dalam sebuah video mengungkapkan kekejaman militer Myanmar pada etnis Rohingnya, “para bayi dan balita dibunuh dan kemudian dimutilasi. Sementara tubuh-tubuh mereka dan dibuang ke dalam sungai. Perempuan kami juga mengalami hal serupa. Mereka dikejar-kejar hingga akhirnya dimutilasi di jalanan. Sementara, rumah-rumah mereka hangus dibakar,” ucapnya dalam video yang berdurasi lebih dari 2 menit, Rabu (30/8).
Dalam video itu, Ataullah Abu Ammar juga menantang militer Myanmar untuk berhadapan dengan mereka, bukan melakukan kepada perempuan dan anak-anak Rohingya.
“Jika kalian ingin perang, silahkan lakukan itu dengan kami (ARSA). Bukan dengan wanita dan anak-anak yang lemah. Anak-anak dan wanita tidak melakukan kesalahan apapun terhadap kalian. Jangan sesekali sentuh mereka. Dan hentikan membumihanguskan rumah-rumah (milik Rohingya).”
“Jika kalian ingin perang, hadapilah para pemuda yang berjuang untuk membela hak dan martabatnya. Datanglah dan hadapi kami. Hentikan perbuatan kotor kalian terhadap anak-anak dan wanita,” ucapnya menantang militer Myanmar.
Pemerintah Myanmar mengatakan ARSA adalah kelompok teroris yang para tokohnya mendapat pelatihan di luar negeri. Pemimpinnya, menurut International Crisis Group, adalah Ata Ullah, seorang Rohingya yang lahir di Pakistan dan dibesarkan di Arab Saudi.
Namun tudingan itu dibantah oleh ARSA. Juru bicara ARSA saat diwawancarai Asia Times mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kaitan dengan kelompok jihad mana pun dan bahwa anggota-anggota mereka adalah kaum muda Rohingya yang marah oleh berbagai peristiwa sejak kekerasan komunal pada tahun 2012.
Dalam catatan, ARSA mulai melakukan aksinya pertama kali pada Oktober 2016. Saat kemunculan pertama kali itu, mereka melakukan serangan serupa pada pos polisi, menewaskan sembilan (swa)


loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...