Berikut Kronologi Kasus Main Hakim Sendiri yang Menimpa Abi si Pencuri Vape

Loading...

Abi Qowi Suparto (20) tewas dianiaya oleh segerombolan orang. Kuat dugaan, Abi dianiaya karena mencuri alat isap vaporizer (vape) seharga Rp 1,6 juta dari Rumah Tua Vape (RTV) Tebet.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta mengungkapkan kronologi tewasnya Abi. Menurut Nico, insiden ini berawal ketika seorang pria bernama Fahmi yang merupakan pemilik RTV menerima laporan dari anak buahnya bahwa ada satu paket vape seharga Rp 1,6 juta hilang. Kemudian karyawan bernama Aas berupaya menelusuri hilangnya barang melalui CCTV.
“Dari rekaman CCTV diduga ada seseorang bernama Abi yang mengambil vape dari toko tersebut,” ujar Nico di Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (10/9/2017).
Nico menambahkan, setelah mengetahui terduga pelaku pencurian, pada tanggal 27 Juli 2017, Fahmi mengunggah foto dan data-data Abi melalui media sosial. Langkah ini diambil setelah Fahmi dan crew RTV melakukan perundingan. Data-data Abi didapat karena sebelumnya Abi pernah membeli vape di toko tersebut.
“Jadi, ketika konsumen mau membeli, mereka memberikan data seperti nama dan alamat email,” imbuhnya.
Nico menuturkan, dalam unggahan tersebut, Fahmi memberikan informasi jika Abi telah mencuri di tokonya. Dia akan memberikan hadiah sebesar Rp 5 juta untuk siapapun yang bisa menemukan Abi.
“Itu diunggah di Instagram RTV. Selang dua hari yakni 29 Juli 2017, ada beberapa informasi jika Abi berada di daerah Karet. Fahmi kemudian mendatangi tempat Abi. Setibanya di sana, dia bertemu dengan nenek dan bapaknya Abi. Disampaikan oleh orang tua Abi ‘kalau bisa diselesaikan secara kekelurgaan’,” kata Nico yang mengenakan kemeja putih ini.
Sebulan kemudian, tepatnya tanggal 19 Agustus 2017, Fahmi dihubungi oleh karyawannya bernama Dimas. Dia menginformasikan jika Abi berada di lokasi di mana Fahmi menemui nenek dan bapaknya. Akhirnya, Abi dijemput oleh dua yakni Dimas dan Adit.
“Pada 28 Agustus 2017 jam 16.00 WIB, Abi dibawa ke RTV di Pejompongan. Lalu, Fahmi, Ando, Dimas dan Adit beserta tiga pelaku lain melakukan pengeroyokan sambil menginterogasi. Sekitar pukul 20.00 WIB, kondisi (Abi) agak lemah. Dia kemudian  dibawa ke RS Tanah Abang. Sejam kemudian dia dirujuk ke RS Tarakan dan akhirnya meninggal 3 September 2017,” tutur Nico.
Lebih lanjut, Nico menuturkan, pada 5 September 2017, ibu korban akhirnya mendengar kabar dari media sosial jika anaknya tewas karena dianiaya.
“Tanggal 7 September 2017 sekitar pukul 16.00 WIB, kami menerima laporan sekitar. Kemudian pukul 21.00 WIB, kami berhasil menangkap Dimas, Adit. Ando yang terakhir menyerahkan diri. Jadi Ando ini adalah join Fahmi membuka toko,” paparnya.
‎Nico menegaskan, pihaknya akan menghukum tegas para pelaku. Atas perbuatannya, para pelaku akan dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan.
“Tak tertutup kemungkinan, akan dikenakan Pasal 340 KUHP jika pada akhirnya mereka terbukti melakukan pembunuhan berencana,” tutup Nico.


loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...