Jokowi Paranoia?

Loading...


Oleh Don Zakiyamani
Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)


Kiriman Naskah, Mediaoposisi.com- Berasal dari dua kata para dan noos, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai kesulitan dalam membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Pemikiran yang cenderung penuh kecurigaan serta ketakutan pada orang lain.

Delusi merupakan awal paranoia muncul dan bersarang didalam pikiran seseorang. Beberapa literatur psikologis mengatakan delusi merupakan halusinasi terhadap sesuatu yang sudah jelas tidak ada didalam kenyataan. Bentuk dasarnya merasa paling hebat dan orang lain membenci serta ingin menghancurkannya. 

Delusi yang pertama akan menciptakan pribadi yang arogan, dirinya merasa lebih hebat dari orang lain. Delusi yang kedua akan menciptakan pribadi yang penuh buruk sangka, baginya menghancurkan orang lain lebih baik dilakukan sebelum orang lain menghancurkan dia. Sikapnya selalu penuh kecurigaan tanpa dasar, dan bayangkan bila pemimpin yang memiliki delusi demikian.

Dua delusi ini akan menguat sehingga lahirlah paranoia, tiada ketenangan didalam dirinya. Pemimpin sebuah organisasi hingga negara bila terjangkit paranoia akan sulit menerima kritikan. Biasanya akan meluncurkan tuduhan tertentu kepada pengkritiknya.

Rasa curiga yang berlebihan pernah dilakukan Amerika Serikat saat menuduh Irak memiliki nuklir. Saat itu George W. Bush benar-benar mengindap paranoia. Umumnya para pemimpin yang suka mencurigai negara lain secara berlebihan mengindap paranoia. 

Pemimpin paranoia akan selalu mencurigai negara lain bahkan rakyatnya sendiri. Tanpa bukti yang kuat namun akan menangkap rakyat sendiri, paranoia mengakibatkan pemimpin menjadi otoriter. Ia akan melibas siapapun yang dianggap pemikirannya akan menghancurkan kekuasaannya.

Delusinya tadi akan mendorongnya untuk tidak berani mengakui kesalahan. Baginya ia paling benar dan yang lain salah dan ia akan selalu mencari kambing hitam. Apakah selama ini Jokowi ada bersikap demikian, apakah institusinya suka menangkap orang atas dasar kecurigaan-kecurigaan.

Bila gejala diatas menurut kita ada pada Jokowi, maka patut diduga Jokowi mengindap paranoia. Perlu penelitian mendalam karena jangan sampai yang menilai malah terjangkit paranoia. Kecurigaan dan penelitian tentu sangat berbeda, kita harus ilmiah. Rasa ingin tahu dan kecurigaan dua hal yang berbeda walaupun sebagian kita sulit membedakan.

Rasa ingin tahu merupakan sifat dasar manusia, sementara curiga merupakan klaim atas sesuatu. Rasa ingin tahu akan terpuaskan setelah didapat yang ingin diketahui. Sementara curiga tidak akan pernah puas bila jawaban tidak sesuai dengan sangkanya.

Sikap ilmiah didahului rasa ingin tahu sementara sikap paranoia didahului rasa curiga. Rasa ingin tahu akan menciptakan peradapan yang lebih baik, sebaliknya paranoia akan merusak tatanan diri maupun lingkungan bahkan peradapan.

Lalu bagaimana dengan masyarakat kita hingga pemimpin negeri ini. Berapa banyak diantara kita bahkan tidak tertutup kemungkinan pemimpin kita mengindap paranoia. Kita ingin tahu dan itu ilmiah, jangan curiga sebelum data dan fakta tersaji dimeja ilmiah kita.

Seberapa sering Jokowi misalnya melakukan kebijakan yang cenderung paranoia. Kebijakan yang didasari kecurigaan terhadap mereka yang kritis. Kebijakan yang dipenuhi delusi sehingga merasa diri paling benar. Seorang pemimpin yang tidak mau mendengar aspirasi rakyatnya walaupun itu benar.

Bila menurut kita Jokowi dan kabinetnya pernah melakukan yang demikian maka kita patut berhati-hati. Bila pengambil kebijakan sampai mengindap paranoia maka rakyat yang akan menjadi korban. Kita tentu tak ingin curiga Jokowi mengindap penyakit itu.

Namun kita juga jangan lengah dan lelah mengingatkan kepadanya bahwa paranoia tidak mengenal kasta politik. Paranoia juga tak mengenal kasta harta dan rupa, semua manusia berpotensi mengindapnya. Itulah mengapa kekuasaan tertinggi negeri ini ditangan rakyat bukan ditangan elit politik.

Bila kekuasaan negeri ini ditangan segelintir elit maupun seseorang sementara mereka mengindap paranoia maka celakalah nasib negeri ini. Otorian akan lahir tanpa bisa diaborsi dan ia akan tumbuh besar serta menguat. Pertanyaan kita selanjutnya adalah apakah Jokowi mengindap paranoia?

Silahkan melakukan penelitian berdasarkan data dan fakta. Bersikaplah objektif tanpa takut kehilangan segala yang dimiliki selama ini. Saatnya kita revolusi mental, seorang pejuang yang tak takut apapun kecuali pada penciptaNya.[MO]




loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...