Krisis Rohingnya, Bukti Lemahnya Negeri Muslim?

Loading...


Oleh. Budi Santoso 
Mahasiswa Universitas Ibn Khaldun Bogor

Mediaoposisi.com- Mangdau, Negara Bagian Rakhine tengah menjadi perhatian dunia. Bukan soal keberhasilan ekonomi atau teknologinya, melainkan badai krisis yang tengah menyelimuti negara tersebut. Krisis diawali oleh serangan kelompok militian Rohingya, Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) terhadap pos polisi dan tentara Myanmar. 

Kemudian dibalas oleh tentara Myanmar dengan membabi buta dengan alasan pemberantasan “terorisme”. Walhasil alih-alih membalaskan penyerangan kepada kelompok militan Rohingya, genosida etnis muslim Rohinya-lah yang terjadi.

Dari perseteruan dua kelompok tersebut mengakibatkan lebih dari 110 meregang nyawa, baik dari pihak aparat pemerintah, militan Rohingya, maupun masyarakat sipil dari berbagai etnis di Rakhine. Tak ayal gelombang para pengungsi pun mendesak masuk ke negara tetangga yakni Bangladesh. 

Tercatat sebelumnya, Bangladesh sudah menampung sedikitnya 400.000 pengungsi Rohingya akibat perseteruan beberapa tahun yang lalu. 

Dari krisis yang terjadi di Mangdau, Negara Bagian Rakhine, memunculkan rasa empati dari seluruh negeri-negeri muslim. Mulai dari bala bantuan, kecaman, kutukan, hingga jalur diplomasi dilakukan oleh tiap negara untuk membantu menyelesaikan konflik Rohingya. 

Tamparan Untuk Negeri Muslim

Peristiwa yang terjadi di Rakhine merupakan satu di antara sekian banyak krisis yang terjadi di wilayah yang berpenduduk muslim. Selain di Rakhine Myanmar, krisis ini bisa dijumpai di negara lain seperti: Suriah, Palestina, dan negara-negara konflik lainnya. 

Peta Negeri-Negeri Muslim

Ini menandakan, saat ini umat muslim tengah menjadi korban dari adanya kepentingan dibalik setiap krisis yang ada. Umat Islam menjadi umat yang pesakitan tatkala konflik berlangsung. Dan setiap kali krisis berlangsung para pemimpin di negeri muslim selain memberikan kutukan, hanya memberikan bantuan berupa uang, makanan, atau pakaian. 

Padahal jika berbicara pada keterbukaan, negeri-negeri muslim memiliki segala hal yang bisa membuatnya berkorban lebih jauh untuk setiap krisis yang menimpa saudaranya. Bahkan negeri-negeri muslim memiliki kekuatan untuk tampil sebagai negara unggulan yang berpengaruh bukan sebagai negara tertinggal yang dipengaruhi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Luis Lugo (Oktober, 2009), menunjukkan di lebih dari 200 negara, populasi umat Islam dalam berbagai rentang usia yang hidup di dunia ini sekitar 1,57 miliar. Jumlah tersebut merepresentasikan 23 persen dari sekitar 6,8 miliar populasi dunia pada tahun 2009. 

Dua pertiga dari populasi muslim dunia tersebut tinggal di 10 negara yakni Indonesia (202,87 juta), Pakistan (174,08 juta), India (160,95 juta), Bangladesh (145,31 juta), Mesir (78,52 juta), Nigeria (78,07 juta), Iran (73,78 juta), Turki (73,62 juta), Algeria (34,20 juta), dan Maroko (32,01 juta).

Selain itu, dalam hal kekuatan militer, negeri-negeri muslim juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Diwakili oleh lima negara muslim terbesar saja (Indonesia, Mesir, Iran, Pakistan, dan Turki) sudah bisa mendapatkan penduduk yang layak mengemban wajib militer dengan jumlah hampir dua kali lipat yakni 217,67 juta dari penduduk AS –misalnya-, yang hanya mendapatkan penduduk layak menjalani wajib militer sebesar 118 juta. (Ja’far Muhammad Abu Abdullah, 2011)

Tidak lupa juga di bidang ekonomi, negeri-negeri muslim merupakan negeri yang menjadi pemasok barang-barang utama yang dibutuhkan dunia. Sebagai contoh: dalam hal produksi beras, menurut Internasional Rice Research Instittute (IRRI), negeri-negeri muslim memproduksi sekitar 21,06 persen dari keseluruhan produksi beras dunia pada tahun 2008. 

Untuk produksi gandum, Grain Market Report menyebutkan pada tahun 2010 negeri-negeri muslim berhasil memproduksi sekitar 102, 3 juta metrik ton gandum yang merepresentasikan sekitar 16,85 persen dari keseluruhan produksi gandum dunia.

Di sektor energi, mengutip dari nationmaster.com (22/08/2010) produsen minyak bumi terbesar adalah negeri-negeri muslim yakni 48,15 persen, disusul dengan Rusia 11,72 persen, USA 9,16 persen, China 4,42 persen, dan UK 2,57 persen. 

Sedangkan untuk cadangan uranium dunia, menurut Asosiasi Nuklir Dunia pada tahun 2009 menempatkan negeri-negeri muslim di posisi ke-dua dengan presentasi 22,60 persen di bawah Australia dengan presentase 22,70 persen. 

Dengan semua data yang dikemukakan di atas, menunjukkan negeri-negeri muslim di seluruh dunia bukanlah negeri yang lemah jika ditinjau dari demografi, kekuatan militer, dan sumber daya ekonomi. 

Semua memperlihatkan negeri-negeri muslim merupakan negeri yang layak diperhitungkan dalam kancah percaturan politik global. Namun apa sebab muslim di Rohingnya dan negara konflik begitu terendahkan? 

Salah satu jawaban adalah kebijakan para penguasa di bidang politik luar negeri yang cenderung tidak mau ikut lebih jauh dalam proses penyelesain konflik.

Para pemimpin muslim saat ini seringkali hanya memberikan kecaman atau kutukan terhadap provokator konflik. Padahal dilihat dari sisi sejarah, kecaman dan kutukan tidak memberikan andil yang signifikan kecuali hanya sebatas obat penenang sementara yang tidak berdampak pada kesembuhan suatu penyakit.

Dengan adanya keunggulan di berbagai bidang, seharusnya ini menjadi pemicu dari sumbu keberanian pemimpin untuk lebih berani mengambil tindakan nyata terhadap wilayah terjadinya konflik. 

Dan itu akan menjadi satu penyalur yang sama dengan apa yang disuarakan oleh masyarakat. Walhasil kehinaan yang sudah nampak oleh mata bisa tergantikan dengan kemuliaan atas nama ukhuwah islamiyah.[MO]


loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...