Pancasila dan ketahanan mental budaya

Loading...



Apabila struktur kebudayaan diibaratkan dengan sebuah bawang merah yang berlapis-lapis, lapisan paling dalam atau pusatnya adalah aspek mental. Sementara itu, lapisan terluarnya adalah artefak-artefak, seperti gaya bangunan, furnitur, busana dan sejenisnya.

Pada bawang, lapisan pusat adalah pangkal tumbuhnya daun yang membuat bawang tersebut hidup dan berkembang. Selama lapisan terdalam tersebut baik-baik saja, bawang masih punya peluang hidup walaupun lapisan luarnya sudah rusak. Dalam kebudayaan juga demikian, aspek mentallah yang membuat suatu kebudayaan mencapai puncak-puncak peradaban.

Pada struktur kebudayaan, lapisan terluar merupakan bagian yang paling rentan terhadap perubahan, sementara lapisan terdalam paling akhir terpapar pengaruh dari luar atau mengalami pergantian. Orang Jawa mudah saja memakai baju gamis, celana jeans atau menanggalkan gaya sanggulnya, tetapi ketika lewat di depan orang tua, secara “otomatis” badannya akan membungkuk. Hal itu terjadi karena tatakrama atau norma berada di lapisan yang lebih dalam dari lapisan terluar, tetapi tidak lebih dalam dari aspek mental atau budi. Atau dengan kata lain, walau lapisan luar telah berubah, belum tentu lapisan yang lebih dalam ikut berubah. Ini sekadar analogi sederhana untuk mengamati proses pergeseran kebudayaan atau daya tahan suatu kebudayaan masyarakat secara umum.

Kita terlebih dahulu harus membedakan antara kebudayaan dan budaya. Kebudayaan mempunyai arti yang sangat luas, yaitu semua kreasi manusia, baik berbentuk fisik maupun spiritual. Sementara itu, budaya memiliki makna yang lebih sempit, yaitu akal budi yang menjadi bagian dari diri manusia sebagai Homo culturalis. Munculnya istilah Homo culturalis sendiri adalah sebagai akibat dari empat proses evolusi—bipedalisme, perkembangan otak manusia yang melampaui spesies lain, kemampuan membuat peralatan, dan tumbuhnya rasa kesukuan sebagai bentuk utama kehidupan kolektif manusia (Danesi&Perron, 1999:19).

Jika ada orang yang berkata, “Masyarakat Bali adalah masyarakat yang berbudaya,” hal ini berarti ‘masyarakat Bali mempunyai budaya: mempunyai pikiran dan akal budi yang sudah maju’ (Lihat KBBI, 2008). Jadi, apabila akal budi tersebut dicipta oleh bangsa Indonesia, disebutlah budaya Indonesia; jika dicipta masyarakat Arab, disebutlah budaya Arab, demikian seterusnya.

Sementara itu, yang dimaksud dengan Pancasila ketahan mental budaya adalah daya budi budaya bangsa yang dilandasi Pancasila untuk membangun masyarakat dan manusia Indonesia. Kerangka acuan pembangunan masyarakat Indonesia secara utuh telah digariskan dalam UUD 45 yang dijiwai Pancasila. Sekarang tinggal bagaimana mempertahankan dan menanamkan budi budaya Pancasila untuk terus dapat menjiwai berbagai segi pembangunan bangsa: politik yang jujur dan beradab ala Pancasila, ekonomi yang berkeadilan dan merakyat ala Pancasila, ideologi yang berketuhanan ala Pancasila, dan seterusnya.

Dalam analogi lapisan bawang kebudayaan tadi, sudah jelas bahwa mental budaya ini menempati lapisan terdalam. Mental budaya Pancasilais ini merupakan kesatuan akal budi dan nilai-nilai luhur untuk menata kehidupan pribadi maupun interaksi antar makhluk dalam masyarakat dan alam sekitar. Oleh karena itu, dalam praktik kehidupan nyata—bernegara, berbangsa dan bermasyarakat—secara mendasar dimensi mental budaya ini akan lebih esensial daripada dimensi-dimensi lain yang berada di lapisan lebih luar.

Sebelum menjadi koloni asing, bangsa kita adalah bangsa yang mandiri, makmur dan berperadaban tinggi. Tanpa campur tangan asing, masyarakat kita mempunyai sistem pengetahuan sendiri (indigenous knowledge) untuk hidup sinergis dengan alam dan sesama makhluk. Masyarakat kita tahu bagaimana menjaga hutan agar tetap lestari. Kelestarian Hutan Sangeh di Bali tidak terjadi begitu saja. Mekanisme kontrol sosial yang memengaruhi cara berpikir dan perilaku warganya membuat mereka mampu memanfaatkan hutan tanpa merusak ekosistem.

Masyarakat Dayak juga demikian, mereka punya kearifan tersendiri dalam memanfaatkan hutan. Jika kita mendengar perusakan dan pembalakan liar atas hutan kita, pelaku utamanya pasti bukan anggota masyarakat adat (Indigenous Peoples). Para perusak tadi adalah orang yang mental budaya aslinya sudah tercerabut. Regulasi tanpa dijiwai budi budaya Pancasila juga kerap memfaslitasi Perusakan hutan kita.

Contoh lain, Lihat bagaimana rumah adat Nias omohada yang tetap kokoh tak bergeming di saat rumah dengan desain modern ambruk kala gempa 8,7 skala Richter melanda Nias beberapa waktu lalu. Keadaan yang hampir sama juga terjadi di Yogyakarta, gempa hanya meruntuhkan bangunan modern, rumah joglo tetap berdiri seperti sedia kala.

Mengubah kreasi hasil kearifan tradisional di tataran paling luar pun memang kadang tampak konyol. Hal ini jelas kelihatan pada peristiwa rekonstruksi candi Prambanan pasca gempa Yogya. Sebagian bangunan candi tampak masih berdiri tetapi dalam posisi melintir, sebagian lagi runtuh. Posisi yang melintir tersebut membuat proses rekonstruksi lebih rumit. Ternyata, posisi bangunan yang melintir tadi adalah akibat dipasangnya pasak besi untuk mengikat batu oleh arkeolog Belanda ketika merekonstruksi Prambanan pada jaman dulu. Padahal, seharusnya batu cukup ditata sedemikian rupa menurut pola potongan yang sudah ada. Leluhur kita bukan tak mengenal besi, tetapi mereka cukup arif melihat bahwa tanah Jawa rawan gempa. Tanpa pasak besi, bangunan akan runtuh jika dihantam gempa. Namun, bentuk potongan-potongan batu yang khas akan memudahkan untuk disusun kembali.

Contoh-contoh di atas hanyalah gambaraan tentang gejala perubahan di tataran luar. Kita pasti dapat membayangkan bagaimana jika yang bergeser adalah mental budaya kita. Di awal kita sudah ketahui bahwa yang mudah dan mula-mula berubah adalah kebudayaan artefak. Kita mungkin masih memaklumi orang berpakaian dan makan dengan menu dan cara asing. Namun, tidak boleh dibiarkan jika yang tersentuh adalah mental budaya kita.

Ketahanan mental budaya Pancasila penting untuk menjamin ketahanan-ketahanan lain yang mendukung tegaknya bangsa dan negara Indonesia. Pengalaman sejarah bangsa telah membuktikan bahwa mental Pancasila itulah yang memiliki daya tahan untuk menjaga keutuhan bangsa dan wilayah kita. Ketahanan ini harus kita perkuat, jangan sampai terjamah, mengalami pengaburan, bahkan tercabut dan terisi dengan mental budaya lain yang mengancam keutuhan dan persatuan kita.

Sistem nilai dan mental budaya kita jauh lebih agung dan tak ternilai, dibandingkan dengan capaian-capaian fisik. Namun, ada berbagai upaya untuk merongrong sistem budi tersebut. Salah satunya adalah menimbulkan keragu-raguan, terutama di kalangan muda. Bahkan, hal yang kasat mata pun masih diragukan. Barangkali, di antara kita pernah mendengar, bahkan dari seorang terpelajar (maksudnya berpendidikan formal), bahwa Borobudur kemungkinan dibuat oleh jin raja Sulaiman dari Timur Tengah. Kelihatan sepele, tetapi ini adalah upaya pengerdilan terhadap kemampuan nenek moyang kita. Padahal, tidak ada kuil megah yang ditinggalkan oleh raja Sulaiman kecuali tugu batu di Palestina, yang sama sekali tak layak disejajarkan dengan kecanggihan arsitektur candi-candi kecil, apalagi disandingkan dengan Borobudur.

Lalu, buat apa pasukan jin tersebut jauh-jauh ke Nusantara, mengapa tidak mengajari atau membangun untuk bangsanya sendiri? Lagipula, Dari bukti arkeologis dan sejarah, pendapat tersebut tentu tak berdasar sama sekali. Borobudur menurut para sejarahwan dibangun pada masa dinasti Sailendra, yang masa kekuasaannya selisih lebih dari 1000 tahun dengan kekuasaan raja Sulaiman. Sama sekali tidak bermaksud merendahkan kebudayaan lain, penulis hanya mencoba berpikir secara logis.

Mental budaya kita tidak terbentuk hanya dalam satu malam, sebagaimana candi Prambanan juga tidak terbentuk dalam satu malam seperti dalam cerita mitos. Mental Pancasila adalah akumulasi sistem nilai dari generasi ke generasi sepanjang zaman yang tahan uji. Hilangnya mental tersebut akan memastikan Indonesia menuju negara gagal. Robohnya konstruksi bangunan karena gempa akibat mengabaikan arsitektur tradisional sudah cukup menjadi pelajaran. Tidak perlu berandai-andai dampak dari bobolnya ketahanan mental budaya kita. Mari bergandeng tangan, bergotong-royong melestarikan Pancasila sebagai benteng mental budaya kita. 





loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==