Rohingya Dan Ironi Rezim Boneka Di Negeri Kaum Muslim

Loading...

Oleh: Abdul Rifa’I
Ketua Gema Pembebasan Kota Makassar

“Artinya, isu ini lebih banyak digunakan untuk konsumsi dalam negeri dalam rangka membakar sentiment masyarakat Islam di Indonesia untuk antipati kepada pemerintah.” Ungkap Tito di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (5/9/2017. Wartakota.tribunnews.com, 5/9).


Mediaoposisi.com- Pernyataan yang disampaikan oleh Tito karnavian selaku Kapolri sangat menggambarkan keberpihakannya kapada rezim Jokowi yang terlalu over sensitif dengan pemberitaan yang ramai dibicarakan di Indonesai dalam hal ini kasus genosida yang terjadi di Rohingya.


Padahal seharusnya sabagai kepala lembaga resmi negara, Tito mampu berdiri netral dan jernih melihat kasus pembantaian yang terjadi terhadap Muslim Rohingya. Tidak hanya Tito, Menkopolhukam Wiranto juga mengeluarkan pernyataan yang kembali menyakiti hati kaum Muslim. Ia menyampaikan bahwa kasus Rohingya tidak usah diributkan di dalam negeri.


Bagaimana mungkin hal tersebut dapat dilakukan mengingat bahwa kita telah dipersaudarakan dengan ikatan aqidah Islam dengan muslim Myanmar. Jadi apapun yang mereka alami, apalagi pembantaian seperti yang terjadi saat ini maka wajib kaum muslim seluruh dunia untuk menyelamatkan mereka. Tito dan Wiranto yang masih beraqidah Islam juga punya kewajiban yang sama.


Kasus yang terjadi di Rohingya, salah ketika kita mengatakan itu murni kasus kemanusiaan. Sebab kasus kemanusiaan tak memandang agama, suku maupun ras. Jika betul murni kasus kemanusiaan maka korbannya bukan hanya umat Islam, tapi siapapun yang ada didaerah tersebut. Fakta yang ada menunjukkan bahwa, sangat jelas ada muatan agama dalam pembantaian yang dilakukan.



Aung San Suu Kyi


Biksu Rasis Wirathu telah menyebar sentimen kebencian pada rakyat Myanmar yang mayoritas beragama budha terhadap umat Islam yang ada di negeri mereka. Alhasil pembantaian itupun terjadi, sejak tahun 2012 hingga saat ini, umat Islam yang ada di Myanmar hidup dalam bayang-bayang ketakutan akibat kedzaliman dan kebiadaban yang terus dilakukan kepada mereka.


Pemeritah Myanmar bukannya menghentikan dan mecegah berulangnya kasus tersebut, justru membersamai biksu-biksu rasis dalam membumi hanguskan pemukiman umat Muslim Rohingya. Bahkan parahnya militer-militer bersenjata menyisir pemukiman umat islam Rohingya, mereka menangkap, menyiksa bahkan sampai memutilasi dan membakar hidup-hidup dengan begitu biadabnya, hal tersebut sebagaimana yang dapat kita saksikan viral di media sosial.


Kemudian kita akan bertanya-tanya, kenapa hal ini bisa terus terjadi? Bukankah Myanmar memiliki peraih nobel dibidang perdamaian sekaligus pejuang Demokrasi yaitu Aung San Suu Kyi? Bukankah dunia seharusnya mengecam seperti pada peristiwa bom paris? Bukankah PBB memiliki wewenang mengirim pasukan untuk menghentikan kebiadaban tentara Myanmar?


Kemana slogan HAM yang dikoarkan-koarkan negara barat untuk memberangus gerakan terorisme, bukankah di Rakhine terjadi pelanggaran HAM berat? Kemana mereka semua?


Kita kemudian akan semakin sadar bahwa memang seperti itulah kondisinya jika yang menjadi korban adalah Umat Islam. Dunia seakan tiba-tiba tuli, mata mereka tiba-tiba buta. Mereka mendiamkan pembantaian demi pembantaian yang dilakukan terhadap Umat Islam. Lihat saja pembantaian di Palestina yang dilakukan Zionis Israel, Rezim Bashar Al As’ad di Suriah, rezim komunis Cina terhadap Muslim Uighur.



Muslim Rohingya terlunta lunta Nasibnya


Omong kosong dengan HAM, omong kosong dengan PBB, terlabih omong kosong terhadap kecaman demi kecaman yang dikirimkan oleh presiden pengecut. Sekat-sekat nasionalisme semakin memperparah kondis umat Islam. Sebab karena alasan adanya kesepaktan Non-Intervensi di negara ASEAN menyebabkan warga muslim Indonesia hanya bisa menyaksikan pembantaian demi pembantaian yang terus dilakukan.


Kita hanya dapat berdo’a sambil mengirimkan bantuan dana, makanan, dan obat-obatan walaupun sesungguhnya bukan itu yang mereka butuhkan.


Muslim Rohingya butuh tentara! Sebab hanya tentaralah yang dapat menghentikan pembantaian yang mereka alami. Pemerintah Indonesia jika betul ingin menyelematkan Muslim Rohingya bukan dengan mengirim Menteri Luar Negeri yang kemudian menandatangani kesepakatan-kesepakatan dengan rezim Myanmar.


Sebab rezim Myanmar yang juga ikut mengaminkan pembataian tersebut. TNI AD telah mengatakan siap untuk dikirim ke Myanmar, maka tunggu apalagi. Apakah kita akan terus berdiam sementara saudara kita setiap saat berada dalam pambantaian.


Umat Islam seharusnya makin sadar bahwa Nasionalisme telah menjadi senjata bagi kaum kafir penjajah. Mereka menggunakan Nasionalisme untuk menghancurkan umat Islam dan membuat mereka tidak dapat saling tolong menolong disebabkan sekak imajiner tersebut.



Anak Anak Pengungsi Rohingya


Terakhir saya sampaikan bahwa hegemoni Ideologi Kapitalisme di Dunia ini selalu menjadi dalang dari pembantaian umat Islam dimanapun berada. Termasuk pembersihan Muslim Rohingya di Myanmar disebabkan adanya perebutan sumber daya alam Migas oleh Cina dan Amerika. War Of Civilization yang dipaparkan Samuel P. Huntington telah jelas adanya. Para pengusung Ideolog Kapitalisme sadar bahwa hanya Islam satu-satunya musuh mereka setelah sosialisme runtuh bersamaan bubarnya Uni Soviet.


Kejayaan Islam pasti akan kembali. Kemuliaan kaum muslim adalah janji Allah S.W.T. semakin keras kekejaman musuh-musuh Islam menjadi pertanda ketakutan mereka yang jauh labih besar. Olehnya itu sudah saatnya kaum Muslim diseluruh dunia berjuang demi tegaknya Khilafah yang akan menjadi perisai pelindung dan menjadi pembebas segala bentuk kekejaman yang saat ini dialami kaum Muslim.[MO/abdl]

loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...