Ulil: Yang Kemarin Teriak ‘Saya Pancasila’ Sedang Berseteru dengan Gatot Nurmantyo?

Loading...


Mengapa di “Hari Kesaktian Pancasila”, 1 Oktober (01/10/2017), hastag atau tanda pagar (tagar) #SayaPancasila justru tidak muncul?

Pertanyaan besar itu dimunculkan netizen jelang dan paska “Hari Kesaktian Pancasila”. Wartawan senior Uni Lubis di akun Twitter @unilubis menulis: “Celingak-celinguk nyariin ada yang pakai tagar #SayaPancasila ndak? Hari ini cucok untuk yang mau nunjukin dirinya Pancasilais,” tulis @unilubis pada 1 Oktober 2017.

“Di Hari Kesaktian Pancasila malah gak ada hestek itu ya,” tanya penulis senior Zara Zettira di akun  @zarazettirazr. @zarazettirazr juga menulis: “Maka berhati-hati lah wahai pemain hestek #sayaPancasila sebab belum tentu kau paham apa makna hestek itu!”

Secara berseloroh, politisi Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla di akun @ulil mengomentari akun @Abaaah: “Karena yang kemaren teriak ‘Saya Pancasila’ sedang berseteru dengan GN (Gatot Nurmantyo? – Red). Sebelumnya akun @Abaaah menulis: “Mengapa di Hari Kesaktian Pancasila kemarin tak ada yg meramaikan topik: ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila?"


Pada peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni, tak hanya populer di Twitter, di Instagram tagar #sayapancasila dan #sayaindonesiasayapancasila populer di kalangan warganet.

Di Instagram, warganet tampil dengan sejumlah foto selfie yang disandingkan dengan foto kampanye pekan pancasila yang digagas oleh Pemerintah.

Ketika itu, Menpora Imam Nahrawi menulis: “(1) Kelahiran Pancasila mengingatkan kembali kita sebuah keniscayaan bangsa Indonesia, yakni keberagaman. (2) Pancasila sebagai jalan tengah, sebagai konsensus, sebagai rumah bersama, dari keberagaman yang dianugerahkan Tuhan kepada Indonesia. (3) Kita harus merawat dan menjaganya dengan sepenuh hati karena begitu Pancasila roboh maka rumah bersama itu pun akan runtuh"


loading...

Subscribe to receive free email updates:

loading...